
Menko Airlangga Hartarto Buka Pelatihan Semikonduktor Danantara-Arm, Targetkan Cetak 15.000 Insinyur
JAKARTA – Industri semikonduktor global tengah mengalami pertumbuhan eksponensial seiring meledaknya kebutuhan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan infrastruktur digital. Nilai industri ini diproyeksikan melampaui USD 1,5 triliun pada tahun 2030. Merespons peluang raksasa tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan Indonesia siap mengambil peran sebagai pemain utama.
Airlangga menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar atau lokasi perakitan (assembly) semata, melainkan harus bertransformasi menjadi pusat manufaktur semikonduktor terintegrasi di Asia Tenggara.
Hal ini disampaikannya saat membuka acara “Pelatihan Semikonduktor Bersama Arm untuk Talenta Indonesia” yang diinisiasi oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (20/05/2026).
“Membangun industri semikonduktor yang kompetitif secara global membutuhkan komitmen jangka panjang dalam mengembangkan talenta teknik, memperkuat Research & Development (R&D), dan memperdalam integrasi ke rantai pasokan global. Kita perlu membangun ekosistem semikonduktor berbasis silika sebagai bagian dari strategi industri nasional,” tutur Airlangga Hartarto.
Kolaborasi Strategis Danantara dan Arm Untuk mendukung visi besar tersebut, pemerintah menargetkan pencetakan 15.000 insinyur ahli (engineer) di bidang semikonduktor dalam tiga tahun ke depan. Sebagai langkah awal, pemerintah menyambut 1.000 talenta semikonduktor angkatan pertama hasil kolaborasi antara Danantara dan raksasa arsitektur chip dunia, Arm.
“Kolaborasi antara Danantara dan Arm merupakan langkah strategis bagi Indonesia. Dengan 1.000 talenta yang mengikuti kursus ini, kita melihat masa depan Indonesia cerah. Kami yakin mereka yang dilatih oleh Arm akan menjadi pemimpin Indonesia berikutnya di industri semikonduktor,” puji Ketua Umum Partai Golkar tersebut.
Keunggulan Domestik: Silika dan Pasar Otomotif Airlangga membeberkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang tak tertandingi. Dari sisi hulu, Indonesia kaya akan cadangan mineral strategis silika yang menjadi bahan baku utama foundry (pabrik pembuat chip) semikonduktor.
Dari sisi permintaan (demand), pasar domestik sangat menggiurkan. Industri otomotif nasional yang memproduksi 2 juta kendaraan per tahun membutuhkan setidaknya 150 keping semikonduktor per unit kendaraan. Ditambah lagi, penetrasi smartphone yang mencapai 75 persen populasi dan pertumbuhan ekosistem Internet of Things (IoT) menjadikan Indonesia pasar yang sangat matang.
Siapkan KEK untuk Investor Global Guna memuluskan masuknya investasi global, pemerintah telah menyiapkan ekosistem infrastruktur melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Kawasan seperti KEK Banten, Nongsa Digital Park, dan Singhasari diproyeksikan menjadi pusat R&D dan fabless semikonduktor. Sementara itu, kawasan perdagangan bebas (FTZ) di Batam, Kendal, dan Subang disiapkan untuk pusat manufaktur elektronik tingkat lanjut.
Turut hadir dalam peluncuran program ini Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Ali Murtopo Simbolon, dan Tim Asistensi Menko Perekonomian Raden Pardede.
