Loading Now

Atalia Praratya Blusukan Temui Masyarakat dan Pedagang di Pasar Sadang Serang

Atalia Praratya Blusukan Temui Masyarakat dan Pedagang di Pasar Sadang Serang

Minggu pagi, 7 Januari 2024, Atalia Praratya sudah bergegas menuju pasar Sadang Serang, Kota Bandung. Ditemani sejumlah tim relawannya, Atalia nampak semangat, menyapa semua relawan yang sudah berkumpul sejak pukul 06.30 WIB. “Selamat pagi, good morning,” ujar Atalia menyapa relawannya.

Menggunakan kerudung kuning dan baju putih, Calon Legislatif DPR RI dari Partai Golkar untuk daerah pemilihan (Dapil) Jawa Barat (Jabar) I meliputi Kota Bandung dan Kota Cimahi ini, langsung berjalan menyapa masyarakat yang tengah beraktivitas di pasar.

Mulai dari pedagang sayuran, kue, daging, ikan hingga beras, semuanya tak luput dari sapaan Atalia.

Para relawan yang mengiringi langkah Atalia pun nampak cekatan, ikut mengenalkan Atalia kepada masyarakat di Pasar, meski sebagian besar dari masyarakat sudah mengenal sosok Atalia atau yang dikenal sebagai Ibu Cinta.

“Bu Cinta, istirnya Pak Ridwan Kamil,” ujar Mimin, pedagang sayuran di Pasar Sadang Serang.

Sambil berkeliling, Atalia dan relawannya membagikan kalender 2024, stiker bergambar dirinya, mukena hingga replika surat suara kepada masyarakat, sambil menyosialisasikan bagaimana cara mencoblos yang benar agar suaranya sah.

Selain itu, Atalia pun berbincang dengan pedagang soal stabilitas harga pangan di pasar. Beberapa pedagang pun, mengeluhkan harga pangan yang masih belum stabil.

Dikatakan Atalia, aktifitas kampanye sudah dilakukan sejak bulan lalu. Istri dari mantan Gubernur Jabar ini mengaku selalu menyisir tempat-tempat berkumpulnya masyarakat.

“Saya mencoba menyisir semua tempat kumpul masyarakat salah satunya adalah kita melakukan sosialisasi di pasar-pasar. Ternyata masyarakat itu bingung, bukan saja siapa calegnya tapi bingung karena nanti itu kondisinya akan ada 5 kertas suara dan apa saja yang haru mereka pilih, itu mereka masih bingung,” ujar Atalia.

Dari hasil kampanyenya di Pasar, Atalia juga mengaku mendapatkan informasi soal kenaikan harga yang tidak wajar.

“Jadi ternyata, ada sesuatu yang menurut saya tidak biasa, biasa yang naik itu cabai, bawang sekarang justru tomat yang mahal dan sampai ada yang menjual Rp. 30 per kilonya, ini jadi perhatian kita semua, kalau yang lain naik turunnya masih stabil,” katanya.

Kondisi ini tentunya akan menjadi perhatiannya agar kenaikan harga bahan pokok di Kota Bandung khususnya, tidak drastis.

“Mereka tadi katakan, ini bukan naik sedikit tapi melompat, terutama karena saat ini juga sedang musim hujan banyak bahan baku yang sekarang busuk, seperti tadi saya bicara dengan pedagang umbi-umbian, katanya sulit sekarang karena banyak yang busuk sebelum dipanen,” ucapnya.

Tak cuma soal pangan, Atalia mengaku mendapatkan keluhan soal pendidikan, lapangan kerja hingga masalah lingkungan.

“Jadi, dibeberapa wilayah itu tidak ada SMA, kemudian beberapa warga juga khawatir terkait dengan PPDB tahun berikutnya, karena sistem zonasi itu, ternyata kekurangan jumlah sekolah sehingga mereka kesulitan bagaimana anak mereka sekolah, karena jarak satu kilometer saja bisa kalah oleh yang 500 meter, akhirnya karena tidak ada sekolah lain, mereka tersisihkan,” katanya.

“Kemudian ijazah yang masih ditahan, ini penting sekali jadi perhatian kita semua,” tambahnya.

Selanjutnya, terkait lowongan pekerjaan, Atalia mengatakan bahwa salah satu solusinya adalah pemberdayaan masyarakat agar mandiri, tanpa harus jadi seorang karyawan.

“Kemudian masalah lingkungan, urusan sampah, sanitasi ternyata beberapa wilayah masih kesulitan dengan WC komunal, termasuk juga air bersih,” katanya.

“Jadi, saya menyentuh masyarakat seperti ini karena saya ini penggerak di masyarakat, saya itu pernah jadi ketua PKK, ketua RBM, WPA, kemudian sekarang di Pramuka dan PMI, jadi saya dekat dengan masalah masyarakat, saya mencoba menampung dengan cara-cara yang komunikatif sehingga mereka bisa menyampaikan secara baik dan juga saya bisa menyampaikan kepada mereka bahwa tugas saya bukan eksekusi secara langsung, tapi memperjuangkan supaya menjadi sebuah aturan yang bisa menenangkan warga masyarakat,” ucapnya. (sumber)