Poros Nikel Global: Airlangga Hartarto Resmikan Kerja Sama Strategis Indonesia-Filipina di KTT ASEAN

Poros Nikel Global: Airlangga Hartarto Resmikan Kerja Sama Strategis Indonesia-Filipina di KTT ASEAN

CEBU, FILIPINA – Indonesia dan Filipina resmi menyepakati kerja sama strategis untuk mengintegrasikan industri nikel kedua negara, menandai terbentuknya poros kekuatan baru dalam rantai pasok mineral kritis global. Aliansi dua produsen nikel terbesar dunia ini bertujuan mengamankan pasokan mineral krusial bagi industri kendaraan listrik (EV) dan transisi energi hijau dunia.

Kesepakatan tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA). Prosesi ini disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Maria Cristina A. Roque, di sela-sela KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Sabtu (09/05/2026).

Membangun Koridor Nikel Regional Kerja sama ini memfokuskan pada pembentukan Indonesia-Philippines Nickel Corridor. Inisiatif ini dirancang untuk mensinergikan keunggulan teknologi hilirisasi serta kapasitas smelter Indonesia dengan kekayaan cadangan bijih nikel hulu yang dimiliki Filipina.

“Kolaborasi ini melampaui kerja sama bilateral biasa; ini adalah fondasi bagi platform terstruktur yang menghubungkan hilirisasi Indonesia dengan pasokan hulu Filipina,” ujar Menko Airlangga Hartarto dalam keterangannya di Cebu. Beliau menambahkan bahwa integrasi ini akan menciptakan poros produksi yang tak terpisahkan di pasar internasional.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, kedua negara ini merupakan pemain dominan yang menguasai sekitar $73,6\%$ produksi nikel dunia pada tahun 2025. Indonesia memimpin dengan kontribusi $66,7\%$, sementara Filipina menyumbang $6,9\%$ dari total produksi global.

Keamanan Pasokan dan Nilai Tambah Secara teknis, kerja sama ini memungkinkan adanya proses blending (pencampuran) bijih nikel. Smelter di Indonesia membutuhkan spesifikasi rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) tertentu yang dapat dipenuhi oleh pasokan dari Filipina. Bagi Filipina, kemitraan ini membuka akses untuk masuk ke dalam rantai nilai yang lebih tinggi, sehingga tidak lagi sekadar menjadi eksportir bahan mentah.

READ  Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Bongkar Hambatan Investasi: 62 RDTR di NTB Belum Rampung

“Filipina akan terintegrasi dalam nilai regional yang lebih luas, sementara Indonesia mendapatkan kepastian pasokan bahan baku (feedstock security) untuk industri baterai dan baja tahan karat,” jelas Airlangga.

Transisi Energi dan Investasi Masa Depan Sektor nikel kini dipandang sebagai tulang punggung transisi energi bersih. Produk turunannya menjadi komponen utama dalam sistem penyimpanan energi (energy storage), baik untuk kendaraan listrik maupun infrastruktur panel surya.

Pemerintah Indonesia memproyeksikan investasi di sektor hilirisasi ini akan mencapai angka USD 47,36 miliar pada tahun 2030. Langkah strategis di Cebu ini diharapkan dapat memperkuat posisi tawar ASEAN dalam peta persaingan mineral kritis dunia, sekaligus memastikan ketahanan energi kawasan di tengah meningkatnya permintaan global terhadap teknologi ramah lingkungan.

CATEGORIES
TAGS
Share This