Menperin Agus Gumiwang Resmikan BPIFK Bali: Industri Fesyen dan Kriya Sumbang Rp120 Triliun bagi PDB

Menperin Agus Gumiwang Resmikan BPIFK Bali: Industri Fesyen dan Kriya Sumbang Rp120 Triliun bagi PDB

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, secara resmi meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (08/05/2026). Dalam kesempatan tersebut, Menperin mengungkapkan bahwa industri fesyen dan kriya nasional terus menunjukkan performa gemilang sebagai motor penggerak ekonomi kreatif Indonesia.

Berdasarkan data terbaru, pada triwulan I 2026, nilai tambah ekonomi dari sektor fesyen dan kriya tercatat menembus angka Rp120,13 triliun. Capaian ini mengalami kenaikan signifikan sebesar 7,89 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

“Industri fesyen dan kriya memiliki peran penting dalam upaya mendukung perekonomian nasional. Pertumbuhan ini menunjukkan daya tahan dan optimisme pelaku industri kita di tengah dinamika pasar global,” ujar Agus Gumiwang.

Lonjakan Investasi dan Kinerja Ekspor Sektor ini juga mencatatkan peningkatan investasi yang sangat tajam. Pada triwulan pertama 2026, total investasi di sektor fesyen dan kriya mencapai Rp14,21 triliun, yang terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp4,83 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp9,38 triliun.

Di sisi perdagangan internasional, nilai ekspor pakaian jadi pada periode Januari-Februari 2026 mencapai US$ 1,44 miliar, industri tekstil US$ 0,52 miliar, dan industri kriya mencapai US$ 2,43 miliar. Angka ini membuktikan bahwa produk kreatif Indonesia masih memiliki daya saing yang sangat kuat di pasar dunia.

Pemerataan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja Agus menekankan bahwa kekuatan utama sektor ini terletak pada Industri Kecil dan Menengah (IKM). Saat ini terdapat sekitar 1,75 juta unit usaha IKM fesyen dan kriya yang mampu menyerap hingga 3,69 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.

“Potensi besar ini didukung oleh ekosistem yang kuat, dengan ribuan sentra IKM yang tersebar di berbagai daerah. BPIFK dibentuk untuk memperkuat pendampingan bagi mereka agar naik kelas,” imbuhnya.

READ  Hilirisasi Jadi Senjata Ekonomi, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Ungkap Strateginya

Bali Sebagai Hub Kreatif Nasional Pemilihan Bali sebagai lokasi BPIFK didasarkan pada ekosistem industri kreatifnya yang telah matang. Bali memiliki 25 sentra IKM fesyen dan 197 sentra IKM kriya, menjadikannya salah satu pusat industri kreatif terbesar di Indonesia.

BPIFK diharapkan menjadi pusat inovasi dan pemberdayaan yang mampu menghadirkan alih teknologi, peningkatan kualitas SDM, serta memperkuat peran strategis Indonesia dalam rantai pasok fesyen dan kriya global.

CATEGORIES
TAGS
Share This