
Menperin Agus Gumiwang: Produk Perkakas Tangan IKM Indonesia Mampu Bersaing di Pasar Ekspor
Jakarta – Industri perkakas tangan dalam negeri menunjukkan perkembangan yang semakin menjanjikan. Meski diproduksi melalui proses manufaktur sederhana, sektor ini terbukti mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga menembus pasar ekspor.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut, industri ini memiliki potensi besar seiring tingginya kebutuhan dari sektor pertanian dan perkebunan di Indonesia.
“Industri ini didukung banyak tenaga kerja di sentra produksi yang telah menguasai keterampilan secara turun-temurun. Selain itu, pasarnya juga sangat besar karena Indonesia merupakan negara agraris,” ujar Agus dalam keterangannya.
Produk perkakas tangan seperti egrek, dodos, dan berbagai jenis pisau masih menjadi kebutuhan utama dalam proses panen di sektor perkebunan dan kehutanan. Permintaan ini datang dari berbagai kalangan, mulai dari industri kecil hingga perusahaan besar.
Pemerintah pun terus mendorong penggunaan produk dalam negeri melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), agar produk IKM semakin terserap di pasar domestik.
“Perusahaan kini semakin yakin menggunakan produk IKM yang telah memiliki sertifikasi SNI,” kata Agus.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 123 unit usaha IKM perkakas tangan dengan total 512 tenaga kerja.
Sentra produksinya tersebar luas, mulai dari Sumatera hingga Sulawesi. Wilayah Sumatera Utara menjadi salah satu pusat terbesar, disusul daerah lain seperti Jawa, Bali, hingga Kalimantan.
Menariknya, produk perkakas tangan Indonesia tidak hanya diminati di dalam negeri, tetapi juga di pasar internasional.
Salah satu contohnya adalah PT Sarana Panen Perkasa (SPP) di Medan yang telah mengekspor produknya ke berbagai negara seperti Liberia, Papua Nugini, Kosta Rika, Panama, hingga Kolombia.
Perusahaan ini juga telah mengantongi sertifikasi SNI dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), sehingga mampu bersaing di pasar global.
Meski potensinya besar, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan bahan baku baja berkualitas, tingginya persaingan dengan produk impor, serta kebutuhan investasi teknologi.
Untuk mengatasi hal tersebut, Kemenperin terus melakukan berbagai upaya, mulai dari pendampingan teknis, restrukturisasi mesin produksi, hingga menjalin kemitraan dengan berbagai pihak.
Pengembangan industri perkakas tangan juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi komoditas baja nasional.
Dengan dukungan bahan baku dari industri baja dalam negeri seperti PT Krakatau Steel dan PT Jatim Taman Steel, kapasitas produksi diharapkan terus meningkat.
Ke depan, industri ini diproyeksikan tidak hanya memperkuat pasar domestik, tetapi juga menjadi salah satu sektor unggulan Indonesia dalam rantai pasok global.

