
Dipanggil Prabowo ke Istana, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Jamin BBM Subsidi Aman dan Bantah Kelangkaan Batu Bara
Dinamika sektor energi dalam negeri tengah menjadi sorotan tajam masyarakat. Dua isu besar mencuat secara bersamaan: kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax serta insiden pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa pada 9–10 Juni 2026.
Merespons situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, ke Istana Kepresidenan pada Kamis malam, 11 Juni 2026.
Dalam keterangan persnya usai pertemuan, Bahlil memberikan klarifikasi resmi mengenai arah kebijakan pemerintah, nasib subsidi energi, hingga meluruskan rumor yang beredar di masyarakat.
Isu pertama yang diklarifikasi oleh Menteri ESDM adalah penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Per Rabu, 10 Juni 2026, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter dari yang sebelumnya berada di angka Rp12.300 per liter. Sementara itu, Pertamax Green juga disesuaikan menjadi Rp17.000 per liter.
Bahlil menegaskan bahwa langkah ini diambil setelah menahan harga sejak awal tahun, dan murni mengikuti fluktuasi harga minyak mentah serta nilai tukar global. Pemerintah menjamin bahwa perhitungan ini dilakukan secara bijak.
“Kami menyampaikan bahwa harga BBM untuk bersubsidi maupun LPG itu tidak ada perubahan sama sekali. Sementara harga yang nonsubsidi itu menyesuaikan dengan harga pasar yang ada,” ungkap Bahlil.
Ia menekankan bahwa Presiden Prabowo memberikan instruksi yang sangat tegas: melindungi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Oleh karena itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar, serta LPG 3 kg dipastikan tidak naik.
Pemerintah saat ini juga sedang mengkaji skema insentif lain untuk meredam dampak berantai terhadap inflasi dan konsumsi masyarakat.
Bantahan Isu Kelangkaan Batu Bara
Isu kedua yang menjadi perhatian serius Presiden Prabowo adalah gangguan kelistrikan berupa pemadaman bergilir yang meluas di wilayah Jawa. Di tengah masyarakat, sempat beredar rumor bahwa pemadaman ini dipicu oleh menipisnya pasokan atau kelangkaan batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Bahlil secara langsung membantah spekulasi tersebut. Ia meluruskan bahwa pasokan batu bara nasional untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) berada dalam kondisi aman dan mencukupi.
“Tidak benar batu bara langka, pasokan aman. Gangguan kelistrikan yang kemarin memicu pemadaman bergilir murni karena masalah teknis pada mesin,” tegas Bahlil.
Meskipun pasokan komoditas aman, Kementerian ESDM selaku regulator ketenagalistrikan kini sedang melakukan investigasi menyeluruh bersama PLN. Investigasi ini mendesak dilakukan guna mengevaluasi kelemahan sistem dan meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan nasional, mengingat beban konsumsi terus tumbuh akibat ekspansi industri dan pusat data (data center) baru.
Strategi Ketahanan Energi
Selain menyelesaikan persoalan jangka pendek, pemanggilan Menteri ESDM oleh Presiden Prabowo juga membahas pondasi kemandirian energi nasional ke depan.
Pemerintah berkomitmen melakukan akselerasi pada tiga strategi utama. Meningkatkan produksi minyak siap jual dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor. Kemudian mendorong implementasi biodiesel B50 untuk menekan impor solar secara signifikan.
Selain itu juga menggenjot pencampuran bensin dengan etanol berbasis nabati guna mempercepat transisi energi hijau.

