
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian Soroti Ancaman AI, DPR dan Badan Riset dan Inovasi Nasional Dorong Literasi Keamanan Data
Kesadaran soal keamanan data di era kecerdasan buatan mulai menjadi perhatian serius. Komisi X DPR RI berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar bimbingan teknis (bimtek) sosialisasi penguatan keamanan data di era Artificial Intelligence (AI).
Kegiatan ini turut didukung Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kaltim serta Diskominfo Kaltim. Agenda yang digelar di Hotel Aston Samarinda, Minggu (19/4/2026) itu diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai komunitas anak muda. Di antaranya Duta Wisata dan Duta Pemuda Samarinda, Komunitas Helo, HSA, Adwindo hingga perwakilan komunitas pemuda dari Kukar.
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menjelaskan, kegiatan ini menghadirkan narasumber dari BRIN dan Diskominfo Kaltim untuk memperdalam pemahaman generasi muda terkait dampak perkembangan AI.
“Kami sengaja menghadirkan pakar yang mendalami artificial intelligence agar peserta tidak hanya terampil menggunakan teknologi, tetapi juga memahami ancaman keamanan data yang bisa muncul,” ujarnya, Minggu (19/4/2026), dikutip dari Golkarpedia.
Hetifah yang juga legislator asal Kaltim ini menyebut, antusiasme peserta cukup tinggi karena sebagian besar berasal dari kalangan anak muda yang aktif di dunia digital. Banyak di antaranya merupakan opinion maker, influencer hingga content creator yang sehari-hari memanfaatkan teknologi dalam aktivitasnya.
Namun di balik kemudahan teknologi tersebut, Hetifah mengingatkan adanya berbagai potensi ancaman. Mulai dari penipuan digital, cyber bullying, hingga peretasan data pribadi yang semakin canggih seiring perkembangan AI.
“Kami tadi mendengar banyak contoh kasus seperti penipuan, cyber bullying, judi online sampai peretasan data. Itu bisa terjadi kalau penggunaan AI tidak disertai literasi teknologi yang baik,” jelasnya.
Hetifah bahkan mengaku pernah hampir menjadi korban modus penipuan berbasis AI melalui panggilan video yang memalsukan wajah anaknya. Beruntung ia menyadari kejanggalan tersebut sehingga tidak menuruti permintaan transfer uang dari pelaku.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah terus memperluas pelatihan literasi digital dan AI bagi masyarakat. “Perlu meningkatkan daya kritis masyarakat karena sekarang suara maupun video bisa dipalsukan menggunakan AI,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Brida Kaltim Fitriansyah mengapresiasi kolaborasi tersebut karena dinilai mampu memperluas wawasan generasi muda mengenai pemanfaatan teknologi yang aman. “Kegiatan ini penting untuk memberi pemahaman tentang sisi positif dan negatif AI serta bagaimana mitigasi keamanan data,” ujarnya.
Ia menambahkan, Brida Kaltim juga tengah mengembangkan platform kecerdasan buatan bernama AURA AI yang dirancang untuk membantu masyarakat mengakses berbagai informasi hasil riset secara lebih mudah.
“Harapannya generasi muda bisa memanfaatkan AI untuk hal-hal produktif seperti penelitian, karya ilmiah, maupun inovasi teknologi tanpa melanggar prinsip etika,” pungkasnya. []
