
Menperin Agus Gumiwang: Indonesia Diproyeksi Jadi Pasar Penerbangan Terbesar Keempat Dunia pada 2030
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan data international Air Transport Association (IATA), yang memproyeksikan Indonesia akan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada tahun 2030.
Hal ini sangat mengembirakan, karena berdasarkan data McKinsey & Company, pesanan pesawat dunia mencapai rekor 15.700 unit pada 2024.
“Jadi tidak lama lagi kita akan menjadi pasar industri penerbangan terbesar keempat di dunia di 2030, berdasarkan proyeksi IATA,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (6/5/2026), dikutip dari Golkarpedia.
Agus melanjutkan, peluang ini didukung oleh kapabilitas industri pesawat terbang nasional yang dimotori oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI). PTDI telah memproduksi berbagai pesawat dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang kompetitif, seperti N219 sebesar 44,69 persen, NC212i sebesar 42,15 persen, CN235 mencapai 38,74 persen, dan C295 sebesar 20,87 persen.
Peningkatan armada juga berdampak langsung pada rantai pasok komponen dan industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Indonesia saat ini memiliki 12 perusahaan komponen pesawat di bawah naungan Indonesia Aircraft and Component Manufacturer Association (INACOM), dengan tujuh di antaranya telah tersertifikasi standar kedirgantaraan internasional (AS9100).
Selain itu, terdapat 64 perusahaan MRO bersertifikat Aircraft Maintenance Organization (AMO) yang beroperasi di Indonesia.
Meski berpotensi besar, industri MRO tengah menghadapi tantangan akibat penurunan jumlah pesawat beroperasi menjadi 578 unit pada 2025, gangguan rantai pasok global, dan tingginya tekanan biaya operasional.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemerintah melalui Kemenperin memberikan stimulus berupa insentif penurunan tarif bea masuk menjadi 0 persen atas suku cadang pesawat melalui Skema Khusus Bab 98.
“Kebijakan ini mencakup 148 pos tarif dan 448 jenis barang serta bahan, sehingga biaya perawatan dan perbaikan pesawat dapat menjadi lebih efisien,” jelasnya.
Untuk itu, Kemenperin menyambut baik penandatanganan Joint Declaration of Intent antara Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Airbus SAS.
Hal ini sebagai tonggak strategis dalam mengembangkan ekosistem industri dirgantara Indonesia, sekaligus mempercepat transformasi ekonomi nasional yang berbasis teknologi tinggi.
Inisiatif kerja sama ini sangat tepat di tengah upaya memperkuat sinergi dengan mitra industri global. Apalagi, industri manufaktur nasional terus menunjukkan resiliensi dan performa positif.
Pada Triwulan – I Tahun 2026 (YoY), Industri Pengolahan (IP) tercatat sebagai sumber pertumbuhan tertinggi yang mencapai 1,03 persen.
“Industri Pengolahan pada Triwulan – I Tahun 2026 tumbuh sebesar 5,04 persen, angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,55 persen,” kata Agus.
Sektor ini juga memberikan kontribusi terbesar senilai Rp1.179,62 triliun, atau 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Agus berkomitmen akan mendukung Joint Declaration of Intent tersebut lewat berbagai instrumen kebijakan. Antara lain, menetapkan industri kedirgantaraan sebagai industri prioritas di dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional dan Strategi Baru Industrialisasi Nasional.
Kemudian, memberikan insentif fiskal dan nonfiskal, pembebasan larangan dan pembatasan impor, hingga penurunan tarif bea masuk suku cadang menjadi 0 persen untuk jasa perawatan pesawat.
Berikutnya, melakukan pendampingan pemenuhan standardisasi internasional untuk industri komponen serta meningkatkan kapabilitas jasa reparasi pesawat.
“Kami berharap kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan kerangka kerja, tetapi juga menghadirkan alih teknologi nyata, peningkatan kandungan lokal, penguatan SDM dirgantara, serta memperkuat peran strategis Indonesia dalam rantai pasok global,” tutup Agus.
