
Rycko Menoza Dorong Edukasi Politik Diperluas, Sasar Pemilih Muda
ANGGOTA Komisi II DPR RI Rycko Menoza mendorong perluasan edukasi politik di kawasan perkotaan untuk meningkatkan partisipasi pemilih, terutama generasi muda dan pemilih pemula.
“Edukasi politik di kawasan perkotaan perlu diperluas, mengingat dinamika pemilih di wilayah ibu kota provinsi berbanding lurus dengan tingginya konsentrasi sekolah dan lembaga pendidikan tinggi,” ujar Rycko dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2026 di Bandarlampung, Sabtu (8/8/2026)
Menurut dia, tingginya konsentrasi lembaga pendidikan di perkotaan belum sepenuhnya berkorelasi dengan antusiasme masyarakat dalam menggunakan hak pilih. Partisipasi pemilih di wilayah perkotaan masih perlu ditingkatkan.
“Melalui kegiatan pendidikan pemilih berkelanjutan ini menjadi instrumen penting agar generasi muda dan pemilih pemula memperoleh wawasan baru. Kita ingin mereka tidak lagi asing atau apatis terhadap pesta demokrasi,” katanya, dikutip dari Antaranews.
Ia mengatakan kondisi tersebut terlihat di Kota Bandarlampung yang mencatat tingkat partisipasi pemilih relatif rendah pada Pemilu dan Pilkada 2024.
Berdasarkan data penyelenggara pemilu, tingkat partisipasi masyarakat Kota Bandarlampung pada Pemilu 2024 berkisar 74-75 persen. Angka tersebut merupakan yang terendah di antara 15 kabupaten dan kota di Provinsi Lampung yang secara rata-rata mencapai 80,64 persen.
Partisipasi pemilih di Bandarlampung kembali turun pada Pilkada 2024 menjadi 52,04 persen. Dari total 786.182 daftar pemilih tetap (DPT), hanya 409.093 pemilih yang menggunakan hak pilih.
Capaian tersebut menempatkan Bandarlampung pada posisi terendah di Provinsi Lampung dan termasuk daerah dengan tingkat partisipasi pemilih terendah secara nasional.
“Rendahnya partisipasi di kawasan perkotaan diakibatkan sejumlah faktor, antara lain tingginya angka pemilih apatis atau golongan putih (golput), minimnya efektivitas pola sosialisasi, kendala kesibukan kerja pada hari pemungutan suara, hingga persepsi kritis masyarakat terhadap dinamika kontestasi politik lokal,” ujarnya.
Menurut Rycko, program sosialisasi pendidikan pemilih yang dilaksanakan secara berkelanjutan sejak 2026 diarahkan untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula pada Pemilu 2029.
Ia berharap pemilih pemula memperoleh pemahaman yang utuh mengenai pentingnya pemilu bagi keberlanjutan pembangunan sehingga lebih aktif menggunakan hak pilihnya.
“Jika sejak awal mereka telah dibekali pemahaman dan pengertian yang utuh tentang pentingnya pemilu bagi keberlanjutan pembangunan, kami optimistis target peningkatan partisipasi pemilih pada Pemilu 2029 dapat tercapai,” katanya. []

