
Maman Abdurrahman Dorong Indonesia Jadi Pemain Kunci Rantai Pasok Global di Forum China
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia, Maman Abdurrahman, menegaskan komitmen pemerintah dalam membangun kekuatan pangan nasional di kancah internasional.
Dalam ajang Indonesia–China Food & Ecosystem Forum 2026 yang digelar di Wuhan, China pada Senin (30/3/2026), ia memaparkan langkah strategis untuk memperkokoh kerja sama bilateral.
Menteri Maman menekankan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global melalui ekosistem yang terintegrasi.
“Dalam memperkuat kemitraan ekosistem pangan Indonesia dan China, terdapat tiga prioritas utama yang perlu kita dorong bersama, yaitu penguatan rantai pasok pangan yang terintegrasi, kolaborasi teknologi dan inovasi industri pangan, serta perluasan akses pasar dan kemitraan investasi. Kerja sama ini harus mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi hingga distribusi berbasis digital,” ujar Maman dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (1/4/2026).
Kehadiran Indonesia di Wuhan juga ditandai dengan peresmian Indonesia Pavilion pada pameran The 14th China Food Trade Fair 2026. Paviliun ini menampilkan 17 eksibitor pilihan, mulai dari sektor perikanan hingga produk olahan bernilai tambah.
Menteri Maman menegaskan, bahwa kolaborasi yang dibangun harus memberikan dampak nyata bagi industri dalam negeri melalui investasi yang berkelanjutan.
“Kehadiran Paviliun Indonesia mencerminkan komitmen untuk memperkenalkan produk pangan berkualitas ke pasar global. Untuk itu, kerja sama harus dibangun atas dasar kepercayaan, kemitraan yang setara, serta prinsip saling menguntungkan, dan diwujudkan dalam kerja sama strategis dan investasi jangka panjang,” tambahnya, dikutip dari Golkarpedia.
Sejalan dengan visi Menteri UMKM, Ketua Umum Asian Trade Tourism & Economics Council (ATTEC), Budihardjo Iduansjah menuturkan bahwa dirinya melihat forum ini sebagai instrumen vital untuk menarik fasilitas produksi dunia ke tanah air. Menurutnya, sinergi dengan investor China sangat krusial bagi pertumbuhan industri.
“Kami tidak hanya mendorong peningkatan ekspor, tetapi juga membuka peluang investasi industri ke Indonesia. Dengan menghadirkan investor dan pelaku industri, kita ingin mendorong pembangunan fasilitas produksi di dalam negeri, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi basis produksi yang mampu memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor,” kata Budihardjo.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berupaya memastikan produk-produk UMKM dan industri nasional mendapatkan karpet merah di pasar China. Penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan raksasa ritel seperti Chongqing Department Store menjadi langkah awal yang positif.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi menyatakan optimisme terhadap masa depan perdagangan kedua negara.
“Dengan potensi pasar China yang sangat besar, kami optimistis kerja sama antar pelaku usaha kedua negara akan terus berkembang. Rangkaian kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan perdagangan bilateral, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi produk Indonesia untuk tumbuh di pasar global,” jelas Fajarini.
Selain sektor pangan mentah dan olahan, forum ini juga mendorong ekspansi restoran Indonesia—seperti Sari Ratu—sebagai bagian dari program “jalur rempah”. Inisiatif ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekspor yang berkelanjutan, di mana restoran Indonesia di luar negeri menjadi etalase sekaligus penyerap bumbu dan rempah asli nusantara. []

