
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun Respons Jusuf Kalla, Minta Gunakan Data Fiskal Terbaru
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun merespons pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) terkait wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan menekankan pentingnya penggunaan data mutakhir dalam melihat kondisi fiskal nasional.
Ia menilai bahwa data yang disampaikan perlu dilihat dalam konteks terbaru, mengingat dinamika fiskal dan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) terus berkembang.
Menurut Misbakhun, kebijakan terkait BBM bersubsidi telah melalui perhitungan yang cermat oleh pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kemampuan fiskal dan perlindungan terhadap daya beli masyarakat.
“Keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi merupakan hasil perhitungan yang matang, hati-hati, dan memperhatikan daya dukung fiskal, sekaligus untuk menjaga masyarakat dari tekanan inflasi,” ujar Misbakhun. Dikutip dari Golkarpedia.
Ia menjelaskan, dalam rapat bersama Komisi XI DPR, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa harga BBM bersubsidi diproyeksikan tetap stabil hingga akhir 2026, bahkan dengan asumsi harga minyak dunia mencapai 100 dollar Amerika Serikat (AS) per barel.
Selain itu, lanjut Misbakhun, pemerintah juga memperkuat ketahanan ekonomi melalui pengelolaan cadangan pangan. “Saat ini, stok pangan yang dikelola Bulog tercatat mencapai sekitar 4,4 juta ton, tertinggi dalam sejarah, yang disimpan di berbagai gudang di seluruh Indonesia,” ucapnya.
Misbakhun, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Depinas Soksi), mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan analisis di ruang publik agar tidak menimbulkan persepsi yang kurang tepat di tengah masyarakat.
Ia menilai, sebagai tokoh nasional, penyampaian pandangan sebaiknya mengedepankan data yang akurat serta mempertimbangkan dampaknya terhadap stabilitas sosial dan ekonomi.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, narasi yang disampaikan ke publik perlu menyejukkan dan memperkuat optimisme, sehingga masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang berpotensi menimbulkan keresahan,” kata Misbakhun.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama mendukung upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional, termasuk di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Menurut Misbakhun, sinergi antara pemerintah dan para tokoh bangsa menjadi kunci dalam menjaga kondusivitas, sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan aman dan baik tanpa terganggu oleh kekhawatiran berlebih terkait isu kenaikan harga maupun kondisi ekonomi. []
