Loading Now

Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah: Aksi Nyata Lebih Dibutuhkan Atasi Krisis Iklim

Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah: Aksi Nyata Lebih Dibutuhkan Atasi Krisis Iklim

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengingatkan semua pihak di provinsi berjuluk Bumi Rafflesia untuk mengatasi krisis iklim yang membutuhkan aksi nyata.

“Upaya penyelesaian krisis iklim ini dilakukan dengan inovasi dan prinsip keadilan, aksi nyata berupa restorasi lahan, penggurunan, dan ketahanan terhadap kekeringan,” kata  Rohidin Mersyah di Bengkulu, Rabu.

Menurut dia banyak informasi yang menggambarkan pada 2050 dunia akan dihadapkan dengan lingkungan yang semakin tidak nyaman.

“Pemanasan global luar biasa, air bersih sulit didapat dan masih banyak lagi masalah yang akan muncul. Hal ini yang harus kita antisipasi dari sekarang, bukan hanya sekedar imbauan atau kampanye lingkungan, tetapi aksi nyata, salah satunya menggalakkan pangan lokal atau diversifikasi,” kata dia lagi.

Informasi tersebut tentunya harus menjadi perhatian semua pihak, menurut dia bagaimana menata alam agar tidak benar-benar mengalami hal buruk tersebut seperti yang telah diprediksi.

Pemerintah Provinsi Bengkulu pun pada Rabu 12 Juni 2024 melakukan aksi tanam pohon sebagai wujud kepedulian terhadap krisis iklim.

Kegiatan juga dilaksanakan bersama-sama dengan masyarakat, akademisi, komunitas lingkungan, pelajar dan lainnya. Pemerintah Provinsi Bengkulu juga membagikan bibit alpukat untuk ditanam mendukung pemulihan lahan.

Pemerintah Provinsi Bengkulu juga mengupayakan dan mendukung penghijauan untuk mencegah terjadinya krisis iklim, salah satunya dengan mencegah hutan Bengkulu semakin menyusut juga terus digalakkan.

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah pernah menyebutkan Bengkulu awalnya mempunyai wilayah hutan lindung sebesar lebih kurang 46 persen dari total luas wilayah Bumi Rafflesia. Namun, saat ini kawasan hutan lindung Bengkulu hanya tinggal 33 persen saja, dan seluas 13 persen sudah mengalami kerusakan.

Selain menggalakkan penamaan hutan, cara yang diterapkan untuk mempertahankan tutupan hutan yang ada saat ini yakni dengan memfasilitasi dan mendukung perempuan dan anak-anak muda.

Kedua kelompok ini dianggap paling bisa beradaptasi dengan memanfaatkan produk hutan lebih progresif, lebih aktif namun tidak dengan menebang.

Berbeda dengan kaum laki-laki, sudut pandang kelompok tersebut dalam menghasilkan nilai ekonomi dari hutan malah dengan menebang pohon atau deforestasi yang akhirnya merusak wilayah hutan.

Anak muda lebih kreatif memanfaatkan hutan, contohnya dengan membuat kawasan wisata, ekowisata. Kondisi hutan tetap terjaga, tidak ada perusakan namun menghasilkan nilai tambah dan nilai ekonomi. (sumber)

Share this content: