Sambut Harganas 2026, Mendukbangga Wihaji Kampanyekan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR)

Sambut Harganas 2026, Mendukbangga Wihaji Kampanyekan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR)

Dalam rangka menyambut Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKkBN) menggelar aksi nyata penguatan peran ayah melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR). Kegiatan dilaksanakan di MAN 1 Yogyakarta melibatkan 120 peserta yang terdiri dari para ayah dan anak (25/06/2026).

Gerakan ini merupakan bagian dari implementasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang bertujuan mentransformasi persepsi peran ayah, dari sekadar figur pencari nafkah menjadi sosok yang hadir secara emosional dan terlibat aktif dalam tumbuh kembang anak.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa kehadiran fisik dan psikologis ayah sangat krusial untuk mencegah anak “diasuh” oleh gawai.

“Kita ada program GEMAR. Mengapa program ini ada? Karena berdasarkan data, rata-rata anak kita mengalami fatherless (kehilangan peran ayah) dan memiliki masalah kesehatan mental. Rata-rata mereka memegang handphone setiap hari 8,7 hingga 10 jam,” ujar Wihaji saat berinteraksi dengan siswa dan para ayah.

Wihaji menyoroti fenomena di mana algoritma teknologi kini lebih mendominasi pola pikir remaja dibandingkan orang tua sendiri. “Hari ini, algoritma otak kita hampir 60-70 persen dipengaruhi oleh teknologi. Jika tidak hati-hati, orang tua mereka sekarang bukan lagi kita, tetapi handphone,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya diciptakan untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. Menurutnya, banyak anak saat ini lebih memilih “curhat” kepada Kecerdasan Buatan (AI-Artificial Intelligence) karena merasa kurang mendapatkan sentuhan emosional dari orang tua. “Kalau dulu anak curhat kepada orang tua, sekarang curhatnya ke AI. Padahal AI tidak punya rasa. Anak-anak kita sebenarnya rindu, bukan hanya butuh uang, tetapi sentuhan psikologis,” tambah Wihaji.

READ  Jelang Konsultasi Tahunan RI-Malaysia, Menteri P2MI Mukhtarudin Matangkan Perlindungan Pekerja dan Hak Pendidikan Anak

Dalam kesempatan tersebut, Wihaji berbagi pengalaman pribadinya dalam menyiasati kesibukan. Ia selalu menyempatkan diri mengantar anak ke sekolah dengan menyetir sendiri. Menurutnya, momen di dalam kendaraan selama 30 hingga 60 menit adalah waktu emas untuk membangun komunikasi yang berkualitas tanpa distraksi handphone.

“Sejelek-jeleknya kondisi, usahakan makan bareng, ngobrol, jangan main handphone sendiri-sendiri. Bapak-bapak, sempatkan waktu minimal satu jam untuk mendengarkan anak. Kalau mau memperbaiki negara, kita harus perbaiki keluarga dari hulu sampai hilir,” pesan Wihaji.

Kemendukbangga/BKKBN menekankan bahwa keterlibatan aktif ayah memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas emosi, prestasi pendidikan, hingga kepercayaan diri anak. Di tengah kompleksitas tantangan remaja masa kini, pendampingan yang komunikatif dan kolaboratif dari ayah menjadi kunci penting.

Kegiatan GEMAR di MAN 1 Yogyakarta ini diharapkan menjadi model inspiratif bagi para ayah di seluruh Indonesia untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka guna hadir dalam momen-momen penting kehidupan anak. Langkah ini selaras dengan semangat Hari Keluarga Nasional ke-33 dengan tema “Ayah Wajib Hadir”, demi menempatkan keluarga sebagai fondasi utama dalam menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

CATEGORIES
TAGS
Share This