
Respon Instruksi Prabowo, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Siapkan Langkah Strategis Perkuat Cadangan BBM hingga 90 Hari
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, bergerak cepat merespons kekhawatiran publik di media sosial terkait ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional. Isu ini mencuat menyusul ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Bahlil menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik karena stok BBM nasional saat ini berada dalam posisi yang sangat aman dan terkendali.
Stok di Atas Standar Nasional
Bahlil mengungkapkan bahwa cadangan operasional BBM Indonesia saat ini berada di level 22 hingga 23 hari. Angka tersebut sudah melampaui standar minimum ketahanan energi nasional yang ditetapkan sebesar 21 hari.
“Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama maksimal di 25 hari. Cadangan nasional kita minimal 20 sampai 23 hari. Sekarang sudah di angka 23 hari, jadi sudah di atas standar minimal yang lazimnya,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya di laman Sekretariat Kabinet, Sabtu, 7 Maret 2026, Sabtu (7/3/2026).
Kendala Infrastruktur Penyimpanan (Storage)
Ketua Umum DPP Partai Golkar ini juga memberikan penjelasan transparan mengenai kapasitas penyimpanan energi Indonesia. Menurutnya, angka 23 hari tersebut merupakan hasil maksimal dari pemanfaatan infrastruktur tangki penyimpanan (storage) yang ada saat ini.
Fasilitas tangki di dalam negeri memang didesain untuk menampung kebutuhan konsumsi nasional dengan batas atas maksimal 25 hari. Oleh karena itu, pemerintah melihat perlunya ekspansi infrastruktur untuk memperkuat kedaulatan energi.
Instruksi Presiden Prabowo: Target Cadangan 90 Hari
Guna mengantisipasi ketidakpastian global yang makin dinamis, Bahlil menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi khusus untuk mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan energi baru.
Pemerintah Indonesia menargetkan lompatan besar dalam ketahanan energi, yakni memiliki cadangan strategis yang mampu mencukupi kebutuhan nasional hingga 90 hari atau tiga bulan penuh.
“Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap dinamika geopolitik global. Kita ingin memastikan rantai pasok minyak mentah kita tidak terganggu oleh situasi apa pun di kancah internasional,” tegas Bahlil.
Dengan komitmen ini, pemerintah memastikan pasokan BBM untuk aktivitas ekonomi dan transportasi masyarakat tetap terjaga, meskipun situasi di kawasan Timur Tengah sedang bergejolak. []

