Pakai Kaus Oblong dan Sandal Jepit, Aksi Bupati Bulungan Syarwani Belanja di Pasar Sore Viral di Medsos

Pakai Kaus Oblong dan Sandal Jepit, Aksi Bupati Bulungan Syarwani Belanja di Pasar Sore Viral di Medsos

Ada pemandangan tak biasa di Pasar Sore, Tanjung Selor, Kalimantan Utara, pada Senin 2 Maret 2026. Di tengah hiruk-pikuk pedagang yang menawarkan sayur, buah, dan kebutuhan dapur lainnya, sosok Bupati Bulungan, Syarwani, terlihat berjalan santai bersama istrinya, Sri Nur Handayani.

Tanpa protokol yang mencolok, tanpa rombongan pengawal, keduanya menyusuri lorong pasar seperti masyarakat pada umumnya yang sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga.

Momen itu terekam dalam sebuah video yang kemudian beredar luas di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @theogidn. Dalam rekaman tersebut, Syarwani tampak mengenakan kaus oblong sederhana yang dipadukan dengan sandal jepit.

Penampilan yang jauh dari kesan formal seorang kepala daerah itu langsung memancing perhatian warga yang berada di lokasi. Banyak orang sempat terlihat terkejut karena sosok yang be rjalan di tengah keramaian pasar itu benar-benar menyerupai warga biasa yang sedang mencari bahan dapur. dikutip dari golkarpedia.

Kesederhanaan itu juga tampak dari penampilan sang istri. Sri Nur Handayani terlihat mengenakan gamis hitam tanpa riasan mencolok. Di kedua tangannya tampak sejumlah kantong belanja berisi buah dan sayur yang baru saja dibeli dari para pedagang pasar. Tidak ada atribut kemewahan yang biasanya melekat pada pasangan pejabat publik. Yang terlihat justru potret keseharian yang sangat membumi.

Kehadiran pasangan tersebut tentu tidak luput dari perhatian masyarakat. Beberapa warga yang mengenali sosok Bupati Bulungan itu tampak menyapa dan menyalaminya. Interaksi singkat itu berlangsung hangat dan spontan.

Syarwani dan istrinya membalas sapaan warga dengan sikap ramah, seolah menegaskan bahwa jarak antara pemimpin daerah dan masyarakat tidak selalu harus dibatasi oleh protokol yang kaku.

Di tengah kultur politik yang seringkali identik dengan simbol kekuasaan dan kemewahan, pemandangan semacam ini menjadi kontras tersendiri. Tidak sedikit pejabat publik yang tampil dengan pengawalan ketat atau busana formal ketika berada di ruang publik. Karena itu, ketika seorang kepala daerah terlihat berjalan santai di pasar tradisional dengan pakaian sederhana, publik pun memberi perhatian lebih, tak sedikit juga yang memberi pujian.

See also  Bupati Teuku Raja Keumangan Laporkan Dampak Banjir Bandang Nagan Raya Senilai Rp 1,1 Triliun ke Pusat

Respons warganet pun bermunculan setelah video tersebut viral di berbagai platform media sosial. Banyak yang menyoroti kesederhanaan penampilan Syarwani dan istrinya. Perbincangan itu bahkan berkembang menjadi refleksi yang lebih luas tentang gaya kepemimpinan dan citra pejabat publik di mata masyarakat.

Seperti akun instagram @iwanpe… yang mengatakan “Jgn terlalu dipuji, normalisasi aja hal2 bgini biar yg lain gk jd ikut2 pencitraan”.

Tak mau ketinggalan, akun @muhamadr… pun memberi pujian “ini dia contoh pemimpin yang humble🙌”

Tak hanya sederhana dalam berpenampilan, ternyata Syarwani juga dipuji atas kinerjanya. Akun instagram @ross.e… bersaksi, “Selain itu tunjangan guru kabupaten Bulungan tahun 2025 juga naik setelah beliau jadi bupati kembali.”

Di tengah derasnya kritik terhadap gaya hidup sebagian pejabat, momen sederhana di pasar tradisional yang ditunjukkan Syarwani justru menghadirkan narasi yang berbeda.

Profil Syarwani

Syarwani sendiri bukan sosok yang muncul secara tiba-tiba dalam peta politik daerah. Ia dikenal sebagai putra asli Bulungan yang meniti karir politiknya dari level paling bawah hingga akhirnya dipercaya menjadi orang nomor satu di kabupaten tersebut. Lahir di Tanjung Palas pada 5 Februari 1974, ia menjalani pendidikan dasar hingga menengah di daerah kelahirannya sebelum melanjutkan pendidikan tinggi ke luar daerah.

Perjalanan akademiknya dimulai dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman di Samarinda. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia melanjutkan studi magister di Universitas Brawijaya, Malang. Latar belakang pendidikan itu kemudian menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya di dunia politik dan pemerintahan daerah.

Karier politik Syarwani yang merupakan politisi Partai Golkar ini dimulai ketika ia terpilih sebagai anggota DPRD Bulungan pada periode 1999–2004. Dari sana, karirnya terus berkembang. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Bulungan pada periode 2009–2014, lalu dipercaya menjadi Ketua DPRD Bulungan pada periode 2014–2019. Pengalaman legislatif yang panjang itu kemudian membawanya melangkah ke tingkat provinsi sebagai anggota DPRD Kalimantan Utara pada periode 2019–2020.

See also  Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bandingkan Gratispol vs Kaltim Tuntas: Kuota Mahasiswa Naik 2,5 Kali Lipat

Puncak perjalanan politiknya terjadi ketika ia dilantik sebagai Bupati Bulungan untuk periode 2021–2024 bersama wakilnya, Ingkong Ala. Kepercayaan publik terhadap kepemimpinannya kembali teruji ketika ia kembali memenangkan kontestasi politik daerah dan dilantik untuk periode kedua pada 20 Februari 2025 bersama Kilat sebagai Wakil Bupati. Selain menjabat sebagai Bupati Bulungan, ia juga menjabat sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Kaltara.

Di luar aktivitas politik dan pemerintahan, kehidupan pribadi Syarwani juga terbilang sederhana. Ia menikah dengan Sri Nur Handayani dan dikaruniai empat orang anak, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Keluarga ini dikenal menjalani kehidupan yang relatif jauh dari sorotan gaya hidup mewah.

Potret kesederhanaan itu juga tercermin dalam laporan harta kekayaannya. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), total kekayaan bersih Syarwani tercatat sekitar Rp2,6 miliar. Untuk ukuran seorang kepala daerah, angka tersebut kerap dipersepsikan publik sebagai gambaran gaya hidup yang tidak berlebihan.

Karena itu, ketika publik melihat seorang bupati berjalan santai di pasar tradisional dengan sandal jepit dan kaus oblong sambil membawa belanjaan, banyak orang merasa sedang melihat sesuatu yang jarang terjadi dalam panggung politik. Bukan sekadar soal pakaian sederhana, tetapi juga tentang pesan simbolik bahwa jabatan publik pada akhirnya tetap berpijak pada kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.

CATEGORIES
TAGS
Share This