Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Ungkap Kelemahan Hilirisasi Indonesia, Dorong Daerah Jadi Tuan di Negeri Sendiri

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Ungkap Kelemahan Hilirisasi Indonesia, Dorong Daerah Jadi Tuan di Negeri Sendiri

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan transformasi ekonomi Indonesia tidak akan pernah terwujud tanpa kebijakan hilirisasi sumber daya alam. Menurut dia, Indonesia harus meninggalkan pola ekspor komoditas mentah dan beralih menjadi eksportir produk bernilai tambah.

Bahlil mengatakan gagasan tersebut menjadi inti dari buku pertamanya yang berjudul Hilirisasi Sumber Daya Alam sebagai Transformasi Mandat Konstitusi. Buku itu mengulas perjalanan lahirnya kebijakan larangan ekspor bijih nikel hingga menjadi fondasi pembangunan industri pengolahan di dalam negeri.

“Sampai ayam tumbuh gigi pun, bangsa kita tidak akan pernah melakukan transformasi ekonomi dari ekspor komoditas menjadi ekspor hasil,” kata Menteri ESDM di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Ia menjelaskan, semangat membangun industri pengolahan sebenarnya sudah muncul sejak perubahan Undang-Undang Mineral dan Batubara pada 2009-2010. Namun, implementasinya baru berjalan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui kebijakan hilirisasi yang kemudian diperkuat sejak 2019.

Bahlil mengungkapkan salah satu momentum penting dimulainya hilirisasi terjadi saat dirinya menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Empat hari setelah dilantik pada Oktober 2019, ia mendapat arahan dari Presiden Joko Widodo untuk menghentikan ekspor bijih nikel.

“Saya diperintahkan, Kepala BKPM, saya tidak mau tahu caranya, larang ekspor nikel,” ujarnya, dikutip dari Republika.

Menurut Bahlil, keputusan menghentikan ekspor bijih nikel saat itu diambil melalui rapat bersama pelaku usaha meski belum dituangkan dalam keputusan menteri. Kebijakan tersebut sempat memicu gelombang protes, namun tetap dijalankan sebagai bagian dari strategi membangun industri pengolahan mineral di dalam negeri.

Ia menilai hilirisasi merupakan instrumen utama untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional. Karena itu, kebijakan tersebut harus terus dijaga agar Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan mampu menghasilkan produk industri yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

CATEGORIES
TAGS
Share This