
Menperin Agus Gumiwang Soroti Dampak Logistik Pascabencana terhadap Industri Nasional
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai gangguan rantai pasok dan logistik menjadi titik terlemah industri nasional pascabencana alam di Sumatera. Penilaian tersebut mengemuka dalam rapat perdana awal 2026 bersama jajaran Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang membahas pemulihan industri terdampak bencana pada akhir 2025.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat tekanan terhadap aktivitas industri tidak berhenti pada kerusakan fasilitas produksi. Hambatan distribusi, pasokan energi, dan konektivitas antardaerah memicu penurunan kapasitas produksi, terutama pada industri kecil dan menengah yang bergantung pada kelancaran logistik.
“Dari hasil laporan yang kami himpun hingga 30 Desember 2025, dampak paling besar pada sektor IKM terjadi di Aceh dengan 1.647 industri terdampak,” kata Agus Gumiwang di Jakarta, Ahad (4/1/2026).
Data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) menunjukkan basis industri di wilayah terdampak tergolong besar. Sumatera Utara memiliki 3.520 industri kecil, 115 industri menengah, dan 490 industri besar. Sumatera Barat tercatat 3.464 industri kecil, 17 industri menengah, dan 78 industri besar, sedangkan Aceh mencatat 1.954 industri kecil, tujuh industri menengah, dan 46 industri besar.
Tekanan produksi juga menjalar ke subsektor industri agro, ILMATE, serta industri kimia, farmasi, dan tekstil. Gangguan distribusi bahan baku dan energi membuat banyak industri pengolahan menghentikan produksi sementara atau beroperasi jauh di bawah kapasitas normal.
“Bagi industri manufaktur yang bersifat just-in-time dan padat logistik, gangguan pasokan bahan baku selama beberapa hari saja sudah cukup untuk menghentikan lini produksi,” ujar Agus.
Menperin menilai dampak bencana lebih banyak dipicu gangguan sistemik pada rantai pasok. Terputusnya akses jalan dan jembatan, tersendatnya distribusi BBM, serta ketidakstabilan pasokan listrik dan air menjadi faktor utama yang menekan kinerja industri di wilayah terdampak.
Pendekatan kebijakan berbasis pangsa nilai tambah memperkirakan banjir di Sumatera menahan nilai tambah manufaktur nasional pada kisaran Rp 11–15 triliun. Nilai tersebut bersifat tertunda sementara dan tidak mencerminkan kerusakan permanen kapasitas industri nasional.
“Ketahanan industri nasional tidak hanya ditentukan oleh lokasi pabrik, tetapi juga oleh ketahanan infrastruktur dan jaringan distribusi antarwilayah,” tutur Dewan Pembina DPP Partai Golkar ini.
Menperin menyoroti peran strategis Sumatera sebagai simpul logistik dan pemasok input antara bagi kawasan industri lain, termasuk Pulau Jawa. Gangguan di satu wilayah berpotensi menimbulkan efek berantai yang menekan output manufaktur nasional secara keseluruhan.
Rapat perdana tersebut juga membahas rencana pemulihan industri kecil yang disusun bertahap dan terukur. Pada 2025, fokus diarahkan pada koordinasi, pendataan industri terdampak, serta pemetaan kebutuhan pemulihan dengan progres awal sekitar 20 persen.
Memasuki 2026, pemulihan dilanjutkan melalui penetapan penerima bantuan, pemberian mesin dan peralatan, serta pemulihan proses produksi. Pendampingan teknis disinergikan dengan program lintas kementerian dan lembaga, termasuk Inpres Penghapusan Kemiskinan Ekstrem, RAN Pascabencana, dan Klinik UMKM Bangkit.
Intervensi pemulihan mencakup bantuan mesin sederhana, penyediaan starter kit usaha, pengembangan produk kebutuhan dasar dan fast moving, pendampingan teknis, serta fasilitasi kemitraan untuk memperluas akses pasar. Program restarting diarahkan tidak hanya memulihkan produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan industri kecil menghadapi risiko ke depan.

