
Menkomdigi Meutya Hafid Maknai Perjalanan Spiritual Haji 2026 Sebagai Jembatan Pengabdian Publik
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Republik Indonesia, Meutya Hafid, tiba di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun 2026 ini. Keberangkatan spiritual yang penuh makna ini dijalani Meutya dengan didampingi oleh sang suami tercinta.
Istimewanya, keberangkatan Menkomdigi kali ini dilakukan melalui jalur undangan khusus dari Kementerian Media Kerajaan Arab Saudi. Kehormatan tersebut memungkinkan seluruh rangkaian ibadah yang dijalani oleh Meutya beserta rombongan berjalan dengan sangat lancar, tertib, dan khidmat.
Di tengah padatnya kesibukan menjalankan tugas negara untuk mengawal transformasi digital Indonesia, momen di Tanah Suci ini menjadi waktu yang sangat istimewa bagi Meutya untuk merenung, berserah diri, serta memperdalam keimanan.
Sebagai jemaah undangan khusus kerajaan, politisi srikandi Partai Golkar ini mendapatkan prioritas layanan yang memudahkan akses ke berbagai lokasi penting ibadah, mulai dari pelaksanaan thawaf di Masjidil Haram hingga prosesi wukuf yang sakral di Padang Arafah.
Menjalani Prosesi Lontar Jumrah dengan Khusyuk
Pada Selasa malam waktu setempat, jutaan jemaah haji dari seluruh penjuru dunia—termasuk Meutya Hafid—telah melaksanakan ritual lontar jumrah di Mina yang menjadi salah satu fase puncak krusial dalam rangkaian ibadah haji.
Dengan penuh kekhusyukan, Meutya mengikuti setiap tahapan ibadah secara runut dan menutup hari-hari penuh kegiatan spiritual tersebut dengan doa-doa yang mengalir tulus dari hati yang tenang.
Bagi Meutya, ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik melintasi batas negara. Momentum suci ini merupakan proses transformasi spiritual mendalam yang terus mengingatkan betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta.
Pelajaran spiritual yang sangat berharga inilah yang berkomitmen ia bawa kembali ke tanah air untuk diterapkan dalam ruang-ruang perumusan kebijakan publik. Meutya meyakini bahwa nilai-nilai keadilan, kesederhanaan, dan keikhlasan harus senantiasa menjadi fondasi utama dalam melayani seluruh rakyat Indonesia. Dikutip dari Akun Instagram Meutya Hafid
Kini, di bawah langit Mekkah yang mulia, ia melebur menjadi bagian dari arus besar umat Islam tanpa sekat jabatan maupun status sosial—hanya berdiri sebagai seorang hamba yang bersujud memohon ampunan, rahmat, dan keberkahan bagi bangsa dan negara.

