
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Teken 3 Kerja Sama Energi RI-Korea Selatan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menandatangani tiga kesepakatan bilateral di bidang energi dan mineral dengan Pemerintah Korea Selatan sebagai langkah memperkuat kemitraan strategis kedua negara.
Penandatanganan berlangsung di Istana Kepresidenan Blue House, Seoul, dan disaksikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto serta Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
Tiga Kesepakatan Strategis Energi dan Mineral
Tiga dokumen Memorandum of Understanding (MoU) yang diteken meliputi kerja sama energi bersih, pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), serta pengelolaan mineral kritis.
Bahlil menegaskan kerja sama ini menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan global, termasuk potensi gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik.
“Kerja sama ini sangat penting bagi kedua negara dalam menghadapi risiko gangguan pasokan energi,” ujarnya.
Fokus pada Energi Bersih dan Teknologi Masa Depan
Dalam sektor energi bersih, Indonesia dan Korea Selatan akan mendorong kolaborasi teknologi, peningkatan investasi, serta pengembangan sumber daya manusia.
Kerja sama mencakup berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, hidrogen, nuklir, hingga pengembangan baterai, bioenergi, dan jaringan listrik cerdas.
Selain itu, kedua negara juga akan mengembangkan sistem energi untuk wilayah terpencil serta mendorong efisiensi energi berbasis teknologi.
Pengembangan Teknologi Penangkapan Karbon
Pada bidang CCS, kedua negara sepakat mengembangkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon untuk mengurangi emisi.
Kerja sama ini diharapkan membuka peluang proyek lintas negara, sekaligus mempercepat komersialisasi teknologi ramah lingkungan di sektor industri.
Kolaborasi Mineral Kritis dan Investasi
Di sektor mineral kritis, kerja sama difokuskan pada eksplorasi, pengolahan, hingga daur ulang sumber daya mineral.
Selain itu, kedua negara juga mendorong peningkatan investasi serta kolaborasi antara sektor publik dan swasta guna memperkuat rantai pasok industri.
Diplomasi Energi Indonesia Menguat
Bahlil menilai kesepakatan ini mencerminkan posisi aktif Indonesia dalam membangun diplomasi energi global.
Sementara itu, Presiden Prabowo mendorong agar kerja sama strategis kedua negara dapat segera direalisasikan oleh kementerian terkait.
Presiden Lee Jae Myung juga menegaskan bahwa hubungan dengan Indonesia menjadi salah satu kemitraan strategis paling penting bagi Korea Selatan.

