
Harga HBA Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Menteri Bahlil Siapkan Relaksasi Kuota Produksi Batu Bara
Harga Batu Bara Acuan (HBA) pada Periode II Juni 2026 mengalami kenaikan menjadi 123,91 dolar AS per ton dibandingkan Periode I Juni 2026 yang berada di level 121,83 dolar AS per ton.
Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 253.K/MB.01/MEM.B/2026 yang diakses di Jakarta, Rabu, tren kenaikan harga batu bara terus berlanjut seiring membaiknya kondisi pasar komoditas energi global.
Dalam keputusan tersebut, pemerintah menetapkan empat kategori HBA berdasarkan nilai kalori batu bara. Untuk Periode II Juni 2026, nilai acuan yang berlaku adalah sebagai berikut:
1. HBA (6.322 GAR): 123,91 dolar AS per ton;
2. HBA I (5.300 GAR): 88,40 dolar AS per ton;
3. HBA II (4.100 GAR): 60,19 dolar AS per ton;
4. HBA III (3.400 GAR): 41,19 dolar AS per ton.
Meningkatnya harga batu bara mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan penyesuaian kebijakan produksi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah akan menerapkan relaksasi kuota produksi batu bara secara terukur sebagai respons terhadap dinamika pasar global.
Menurut Bahlil, kenaikan harga batu bara saat ini tidak terlepas dari dampak konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang memengaruhi pasar energi dunia.
Bahlil menyampaikan relaksasi terukur untuk kuota produksi batu bara itu merupakan langkah pemerintah mengikuti perkembangan harga batu bara. Idealnya, tutur Bahlil, ketika harga bagus, produksi pun harus banyak untuk mendapatkan dampak yang positif.
Meski demikian, pemerintah belum menentukan besaran kuota produksi baru yang akan diberlakukan setelah kebijakan relaksasi tersebut diterapkan.
Sebelumnya, pada awal 2026, Kementerian ESDM menetapkan target produksi batu bara nasional sekitar 600 juta ton. Angka tersebut lebih rendah sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Kebijakan pengurangan produksi kala itu diambil sebagai respons terhadap ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan batu bara di pasar internasional sepanjang 2025. Kondisi tersebut sempat menekan harga batu bara hingga turun ke level 97,65 dolar AS per ton pada Periode II Juli 2025.
Namun, situasi berubah drastis setelah pecahnya konflik AS-Israel dengan Iran. Dalam waktu sekitar satu pekan pada awal Maret 2026, harga batu bara melonjak dari di bawah 120 dolar AS per ton menjadi lebih dari 130 dolar AS per ton.
Kenaikan harga batu bara saat ini dipengaruhi oleh terganggunya distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) di pasar global, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap batu bara sebagai sumber energi alternatif.

