FOSTA FPG DPR RI Gelar Diskusi Bahas Risiko Ketegangan AS-Israel Vs Iran dan Implikasinya Ekonomi Nasional

FOSTA FPG DPR RI Gelar Diskusi Bahas Risiko Ketegangan AS-Israel Vs Iran dan Implikasinya Ekonomi Nasional

Pengurus Forum Staf Anggota (FOSTA) Fraksi Partai Golkar DPR RI, kembali menggelar FOSTA Discuss Session (FDS) Volume 3. Diskusi ini mengangkat tema “Menakar Risiko Geopolitik dan Implikasinya Pada Ketahanan Ekonomi”.

Dalam sambutannya Ketua Umum FOSTA, Nur Wahyu Satrio Wibowo, mengatakan, isu geopolitik belakangan ini memberikan dampak pada perekonomian nasional.

“Untuk itu diskusi diharapkan mampu memberi jalan tengah atas persoalan geopolitik yang tengah berkembang,” ungkap Satrio dalam sambutannya.

Hadir sebagai pembicara utama, Ketua Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat FOSTA FPG DPR RI, M. Agus Winarko. Ia menyoroti Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel dan Iran yang meningkat tajam setelah serangan udara bersama yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

“Perkembangan ini menandai eskalasi konflik yang semakin tajam, memperluas ketidakpastian geopolitik global dan mendorong votalitas harga minyak dunia seiring dengan meningkatnya resiko gangguan pasokan energi.” Jelas Agus.

Agus memaparkan, Bagi Indonesia konflik ini bekerja melalui berbagai kanal makroekonomi, dari harga energi hingga sistem keuangan, fiskal dan perdagangan. Sehingga memberikan dampak pada perekonomian dalam negeri.

Menurut Agus, Dampak pertama yang terjadi adalah perubahan perilaku investor global. Tekanan pertama muncul melalui perubahan perilaku investor global.

“Ketika resiko geopolitik meningkat, pasar memasuki fase Risk Off, dimana dana portofolio bergerak keluar dari emerging market menuju aset safe haven seperti dolar AS. Konsekuensinya terasa pada nilai tukar dan pasar keuangan domestik. Rupiah,” ujar Agus.

Dampak kedua, lanjut Agus, bisa terjadi di sektor energi dan fiskal. Sebagai net impoter minyak, Indonesia sangat sensitif terhadap kenaikan harga energi global. Dampak langsungnya, defisit neraca migaas melebar. Kebutuhan Devisa meningkat untuk impor energi, dan tekanan terhadap neraca berjalan bertambah.

See also  Wakil Ketua DPR Sari Yuliati Janji Perjuangkan Nasib Guru Madrasah Swasta Jadi PPPK

“Di sisi fiskal pemerintah menghadapi dilema. Menahan kenaikan harga energi dalam negeri untuk menjaga inflasi dan daya beli masyarakat berarti beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat. Konsekuensinya, ruang fiskal menyempit dan APBN lebih difokuskan pada stabilitas bukan ekspansi,” Agus menjelaskan.

Selanjutnys, Agus menjelaskan, dampak ketiga dari ketegangan AS-Israel vs Iran adalah pada perdagangan dan dunia usaha. Dampak terhadap perdagangan bersifat asimetris. Kenaikan harga energi hampir pasti mendorong nilai impor meningkat, sementara ekspor belum tentu terdongkrak karena perlambatan pertumbuhan global menekan permintaan eksternal.

“Konsekuensinya, Neraca perdagangan berisiko menyempit. Tekanan terhadap transaksi berjalan meningkat. Dan Biaya produksi industri naik akibat kenaikan input energi dan bahan baku. Dalam kondisi ketidakpastian global yang tinggi, dunia usaha cenderung menunda ekspansi dan bersikap lebih berhati hati terhadap investasi baru,” pungkas Agus

FOSTA Discuss Session (FDS) Volume 3 Sekaligus dirangkaikan dengan Buka Puasa Bersama keluarga besar FOSTA FPG DPRI RI. Berlangsung pada Rabu, (04/03/2026) dan bertempat di Kopi Aceh Karim, Jl. Radio Dalam No.13A, Jakarta Selatan.

CATEGORIES
TAGS
Share This