
Anggota Komisi VIII DPR RI Erwin Aksa Apresiasi Danantara Akuisisi Hotel di Mekah, Fondasi Kampung Haji Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara) telah resmi mengakuisisi kompleks perhotelan tiga menara (Novotel Hotel) di kawasan Takher, Mekah. Hal tersebut menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan ‘Kampung Haji Indonesia’ yang sudah lama dicita-citakan.
Langkah Pemerintah tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Erwin Aksa yang menjelaskan lahan seluas 5 hektare dengan kapasitas 1.461 kamar tersebut diproyeksikan mampu menampung 4.383 jemaah haji Indonesia.
Diketahui bahwa selama ini anggaran haji Indonesia yang mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahunnya lebih banyak terserap untuk biaya sewa properti kepada pihak asing tanpa ada nilai tambah bagi aset negara.
“Selama puluhan tahun kita hanya menjadi penyewa. Dengan akuisisi ini, kita melakukan transformasi besar dari belanja konsumtif menjadi investasi produktif. Kepemilikan aset ini adalah bentuk kedaulatan ekonomi haji kita di Tanah Suci,” kata Erwin Aksa, Senin (29/12/25).
Erwin Aksa yang memiliki latar belakang pengusaha ini menyoroti potensi besar dari sisi multiplayer effect ekonomi bagi Indonesia di balik keputusan akuisisi hotel di lokasi strategis Mekah. Dengan memiliki properti sendiri, menurutnya, fluktuasi harga sewa hotel di Mekah yang cenderung naik setiap tahun dapat ditekan, yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH).
“Keberadaan kampung haji Indoensia akan memperkuat penguasaan rantai pasok (supply chain) bagi produk produk UMKM Indonesia makanan, olahan bumbu, hingga perlengkapan pendukung lainnya, bisa masuk dalam ekosistem hotel tersebut secara lebih massif,” ungkapnya.
Adapun dampak positif lain dengan pembelian hotel tersebut, bisa lebih meningkatkan pendapatan khususnya di luar musim haji. Karena Indonesia merupakan salah satu negara pengirim jemaah umrah terbesar di dunia yang mencapai hingga 1,2 juta jemaah per tahun
Selain memberikan apresiasi positifnya, Erwin Aksa memberikan saran masukan agar pengelolaan hotel tersebut bisa memberikan manfaat optimal dan berkelanjutan, serta dampak positif dalam pengembangan ekosisitem ekonomi haji.
Erwin menilai perlunya manajemen pengelolaan hotel yang profesional yang bertaraf internasional dengan melibatkan BUMN perhotelan serta memastikan agar layanan hotel setara bintang lima.
Ia juga mengusulkan agar Kampung Haji Indonesia bisa memberikan layanan yang terintegrasi, tidak hanya sekedar tempat menginap atau singgah sementara. Kampung Haji juga harus dilengkapi dengan pusat layanan kesehatan, bimbingan ibadah, pusat informasi terpadu bagi jamaah dalam satu kawasan
Disamping itu, dalam rangka mewujudkan ekosistem ekonomi haji yang mandiri, maka hasil pengelolaan keuntungan kampung haji bisa di investasikan kembali untuk menambah aset yang di madinah, sehingga seluruh rantai layanan akomodasi jamaah dapat di kendalikan secara mandiri oleh Indonesia
“Kami di Komisi VIII akan mengawal aspek legalitas dan keberlanjutan investasi ini. Target kita jelas, jemaah mendapatkan fasilitas terbaik dengan harga yang lebih rasional, dan negara mendapatkan nilai tambah ekonomi yang terus bertumbuh,” pungkasnya. (sumber)

