Saat Tabola Bale Menggema di Alun-Alun Kota Shaoshan, Tiongkok

Saat Tabola Bale Menggema di Alun-Alun Kota Shaoshan, Tiongkok

USAI melakukan persiapan bermalam di kampus Hunan Shaoshan Executive Leadership Academy (HSELA), 20 orang delegasi Partai Golkar yang diundang International Department of the CPC Central Committee (IDCPC) dan dipimpin Ketua Prof. Ali Mochtar Ngabalin dan Sekretaris Amriyati Amin, melanjutkan perjalanan menuju alun-alun Rakyat Kota Shaoshan yang terletak tak jauh dari HSELA.

Setibanya di lokasi, bus berhenti dan kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui koridor khusus pejalan kaki. Di sisi kiri dan kanan terdapat tanaman-tanaman yang tertata rapi setinggi pinggang orang dewasa.

Semakin kami berjalan, dari kejauhan mulai terdengar suara musik dengan irama dan tempo yang cepat. Dentuman musik memenuhi suasana malam. Kerlap-kerlip lampu mulai terlihat dari kejauhan, membuat kami semakin penasaran dengan apa yang ada di alun-alun tersebut. Koridor terlewati sampailah kami di Alun-Alun Rakyat Kota Shaoshan.

Pandangan pertama kami langsung tertuju pada sekitar 40 orang warga yang berdansa secara berpasangan mengikuti irama lagu berbahasa Mandarin dengan tempo yang cukup cepat. Mereka bergerak secara seragam, berputar searah jarum jam mengikuti irama musik. Gerakannya cepat, tetapi terlihat teratur dan kompak.

Tak jauh dari kelompok itu, sekitar 50 meter dari tempat kami berdiri, terlihat sekitar 12 perempuan dengan usia rata-rata 45 tahun ke atas. Mereka mengenakan seragam olahraga berupa kaos dan celana berwarna ungu muda. Dengan penuh semangat, mereka menari bersama mengikuti iringan musik disko berbahasa Mandarin. Beberapa warga lokal ikut menari di barisan paling belakang dengan riang gembira.

Melihat suasana yang begitu hidup dan ceria, kami mulai tertarik ikut menari lalu mengambil posisi di barisan paling belakang dan mencoba mengikuti gerakan para penari. Tentu saja, tidak semudah yang kami bayangkan. Kami berusaha menyelaraskan gerakan dengan para penari, tapi justru membuat kami tertawa bersama karena gerakannya ternyata cukup sulit diikuti. Walaupun gerakannya sulit kami tetap menari berbaur bersama warga lokal Shaoshan.

READ  Wisata Merah, Cara Tiongkok Perkenalkan Ideologi, Politik, dan Cinta Tanah Air

Saat lagu berikutnya diputar, muncul inisiatif spontan: kenapa tidak kami yang memperkenalkan lagu Indonesia kepada mereka? Dengan bantuan komunikasi dari Ms. Wang Qun penerjemah kami, kami berkomunikasi dengan salah satu penari yg memegang kendali audio.

Lagu dari Indonesia yang dinyanyikan Silet Open Up dengan alunan musik yang kental dengan nuansa NTT bergema di alun-alun warga Shaoshan. Kami menari bersama para penari berbaju ungu muda dan warga lokal. Perbedaan bahasa dan budaya bukan halangan untuk menari dan bergembira bersama.

Tabola Bale bisa bergema di Tiongkok adalah sesuatu yang tidak kami duga dan rencanakan. Sederhana dan bermakna karena bisa menjadi jembatan yang mempertemukan manusia berbeda negara, bahasa, dan latar belakang.

Di malam yang cerah di kota Shaohan kami menemukan kenangan yang sangat berkesan salah satunya karena kami bahagia bisa menjadi bagian dari kebahagian mereka. Sungguh, sebuah kenangan yang kami sendiri pun belum tahu apakah akan bisa terulang kembali. []

Oleh: Eggie Oktia Sari, M.Kn, Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM DPD II Partai Golkar Kota Bogor/Anggota Pokja Bidang Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar

CATEGORIES
TAGS
Share This