
Terima Puteri Indonesia 2026, Menkomdigi Meutya Hafid Perkuat Kolaborasi Kampanye PP TUNAS
Yayasan Puteri Indonesia dan jajaran Puteri Indonesia 2026 menyatakan dukungan terhadap perlindungan anak di ruang digital sekaligus menyatakan kesiapannya untuk mengampanyekan pentingnya keamanan anak di internet.
Dalam pertemuan enam Puteri Indonesia 2026 dengan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, Puteri Indonesia 2026 Agnes Aditya Rahajeng menilai aturan perlindungan anak PP Tunas menjawab kekhawatiran banyak pihak terhadap berbagai ancaman yang dihadapi anak di internet.
“Anak di bawah umur rentan terhadap bahaya pornografi, pelecehan seksual, dan bullying di media sosial. Meskipun harus diakui media sosial adalah sarana mencari informasi yang sangat kuat, di sinilah perlunya pengawasan dan perlindungan,” kata Agnes dalam pertemuan tersebut yang berlangsung di Jakarta, Kamis.
Baca juga: Kemkomdigi sebut “Age Assurance” PSE penting untuk verifikasi usia
Puteri Pendidikan 2026 Gisella Agnes Silalahi mengatakan sebagai dukungan terhadap PP Tunas, dia berencana mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengedukasi siswa mengenai pentingnya perlindungan anak di ruang digital.
“Saya ingin ikut menyosialisasikan PP Tunas ke sekolah-sekolah. Selain itu, saya juga akan menggaungkan isu perlindungan anak di forum internasional untuk menjadikan ini sebagai gerakan global,” kata Gisella yang akan mewakili Indonesia dalam ajang Miss Charm di Vietnam.
Dalam dialog tersebut, Menkomdigi Meutya Hafid menjelaskan tantangan yang dihadapi anak-anak di ruang digital saat ini. Menurut dia, ancaman tidak hanya datang dari konten yang tidak sesuai usia, tetapi juga dari risiko kontak dengan orang asing serta kecanduan penggunaan platform digital.
“Perlindungan anak di ruang digital harus melihat profil risiko yang dihadapi anak, mulai dari risiko kontak, risiko konten, hingga risiko kecanduan. Karena itu PP Tunas mengatur langkah perlindungan yang proporsional sesuai tingkat risiko platform,” ujar Meutya.
Dia mencontohkan bahwa salah satu platform gim, Roblox, telah melakukan penyesuaian khusus untuk Indonesia dengan menonaktifkan fitur kontak bagi pengguna di bawah usia 16 tahun.
Urgensi perlindungan anak semakin besar seiring tingginya penetrasi internet di Indonesia. Saat ini jumlah pengguna internet Indonesia mencapai sekitar 229 juta orang dengan rata-rata waktu penggunaan internet lebih dari 7 jam setiap hari.
Baca juga: Tiga peran orangtua dalam mendukung pelindungan anak di ruang digital
Pada saat yang sama, berbagai indikator menunjukkan meningkatnya tantangan kesehatan mental anak dan remaja, termasuk meningkatnya percobaan bunuh diri pada anak dalam beberapa tahun terakhir serta ratusan ribu kasus gangguan kejiwaan yang memerlukan perhatian bersama.
Meutya menegaskan bahwa isu perlindungan anak di ruang digital telah menjadi perhatian dunia dan semakin relevan dibawa ke berbagai forum internasional.
“Perlindungan anak adalah isu universal. Ketika Indonesia berbicara tentang masa depan digital, maka keselamatan anak harus menjadi bagian penting dari percakapan global,” ujar dia.
Selain Agnes Aditya Rahajeng dan Gisella Agnes Silalahi, dukungan terhadap perlindungan anak di ruang digital juga disampaikan oleh para Puteri Indonesia 2026 lainnya yang hadir dalam pertemuan tersebut, yakni Puteri Indonesia Lingkungan 2026 sekaligus Miss International Indonesia 2026 Victoria Titisari Koesasi Putri,
Lalu turut hadir Puteri Indonesia Pariwisata 2026 sekaligus Miss Cosmo Indonesia 2026 Karina Moudy Widodo, Puteri Indonesia Teknologi dan Inovasi 2026 Glorya Stevany Yame Nayoan, serta Puteri Indonesia Intelegensia II dan Influencer 2026 Athalla Hartiana Putri Hardian.

