Menperin Agus Gumiwang Patahkan Isu Deindustrialisasi Dini, Industri Manufaktur Tumbuh 5,4 Persen

Menperin Agus Gumiwang Patahkan Isu Deindustrialisasi Dini, Industri Manufaktur Tumbuh 5,4 Persen

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membantah, anggapan Indonesia mengalami deindustrialisasi dini dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, menyusul kinerja positif sektor industri manufaktur pada triwulan I-2026.

Menurut Agus, industri manufaktur nasional tetap menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi global.

“Semua sektor saat ini memang menghadapi tantangan global, baik dari sisi geopolitik maupun geoekonomi. Tetapi kita perlu bersyukur karena sektor industri manufaktur terbukti memiliki resiliensi dan daya tahan yang sangat tinggi,” kata Agus di Bali, Jumat (8/5/2026).

Ia menyampaikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor manufaktur tumbuh sebesar 5,4 persen pada triwulan I-2026, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen.

Kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional juga mencapai 19,97 persen atau senilai sekitar Rp1.179 triliun.

“Angka ini bisa menjadi dasar untuk mematahkan semua narasi yang mengatakan bahwa industri manufaktur sedang mengalami deindustrialisasi dini,” ujar Agus, dikutip dari Golkarpedia.

Ia menambahkan, tren kontribusi manufaktur terhadap PDB dalam empat hingga lima tahun terakhir justru terus meningkat.

Selain pertumbuhan ekonomi, Agus menilai sektor manufaktur juga masih menjadi tujuan utama investasi nasional. Pada triwulan I-2026, realisasi investasi industri manufaktur tercatat hampir 36,5 persen dari total investasi nasional atau sekitar Rp 182 triliun.

Menurut dia, tingginya realisasi investasi tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap sektor industri pengolahan sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional masih kuat.

Dari sisi ketenagakerjaan, Agus menyebut industri manufaktur menyerap sekitar 20 juta tenaga kerja hingga Februari 2026. “Ini menunjukkan adanya job creation yang besar di sektor manufaktur. Kami akui memang ada PHK, tetapi penciptaan lapangan kerja jauh lebih besar dibandingkan jumlah PHK yang terjadi,” katanya.

READ  Mukhtarudin Gandeng Kompas TV, KP2MI Fokus Cetak Pekerja Migran Skilled dan Terlindungi

Sementara itu, sektor manufaktur juga masih mendominasi ekspor nasional. Berdasarkan data BPS periode Januari-Februari 2026, kontribusi ekspor manufaktur mencapai 83,6 persen terhadap total ekspor Indonesia. “Ini menunjukkan betapa pentingnya sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional,” ujar Agus.

Ia juga menjelaskan aktivitas industri nasional masih berada pada level ekspansif pada triwulan I-2026. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat berada di zona ekspansi selama triwulan I, meskipun mengalami moderasi pada April 2026 dengan capaian 49,1 akibat dinamika ekonomi global.

Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 juga berada di level ekspansif sebesar 51,75.

Menurut Agus, kondisi tersebut menunjukkan aktivitas industri nasional tetap positif meskipun menghadapi tekanan global yang cukup kuat.

Pemerintah, lanjutnya, akan terus menghadirkan kebijakan pro-industri guna menjaga keberlanjutan kinerja manufaktur nasional dan memperkuat daya saing industri dalam negeri.

CATEGORIES
TAGS
Share This