Menperin Agus Gumiwang Optimistis Industri RI Kuat Hadapi Krisis Global

Menperin Agus Gumiwang Optimistis Industri RI Kuat Hadapi Krisis Global

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan industri nasional tetap tangguh, meski menghadapi gangguan pasokan dari sisi bahan baku akibat ketidakpastian geopolitik global.

Menurutnya, di Jakarta, Rabu, persoalan bahan baku saat ini menjadi isu utama seluruh sektor industri, termasuk tekstil dan produk tekstil (TPT), yang tak hanya terjadi di Indonesia.

Namun, ia memastikan kondisi tersebut masih dapat dihadapi dengan optimisme.

“Bahan baku pasti menjadi isu yang terkhusus dan terpenting dari ketidakpastian geopolitik yang kita hadapi,” ujar Menperin.

Lebih lanjut, dirinya meyakini bahwa ketidakpastian geopolitik dunia akan segera berakhir, serta menekankan bahwa industri domestik memiliki daya tahan yang kuat terhadap tekanan dari dinamika global.

“Tapi saya yakin, kita harus optimis bahwa ketidakpastian geopolitik ini sudah cukup lama, tapi akan selesai dalam waktu yang dekat,” katanya.

Menperin mencontohkan pengalaman Indonesia saat menghadapi pandemi COVID-19, yang pada saat itu industri nasional dinilai mampu menunjukkan resiliensi tinggi dan bangkit lebih cepat dibandingkan banyak negara lain.

“Ketika kita menghadapi COVID misalnya, dimana jelas sekali resiliensi, survival dari industri kita luar biasa tinggi, sehingga begitu kalau boleh disebut krisis itu berlalu, maka industri kita itu menjadi industri yang lebih cepat tumbuh kembali dibandingkan dengan negara-negara lain,” tuturnya.

Ia menekankan tantangan pasokan dan pasar bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga menjadi fenomena global. Dengan demikian, daya tahan industri nasional dinilai tetap kompetitif dalam menghadapi tekanan tersebut.

“Sekali lagi yang menghadapi permasalahan supplymarket, itu bukan hanya di Indonesia,” kata Agus.

Sebelumnya, Menperin sudah menyampaikan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah itu berpotensi memicu volatilitas harga energi global, gangguan jalur perdagangan internasional, serta peningkatan biaya logistik dan bahan baku industri.

See also  Mudik ke Kampung Halaman, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Shalat Idul Fitri Bersama Warga Fakfak

“Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting. Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur,” kata Menperin.

Menurut dia, salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap sektor industri adalah potensi gangguan distribusi energi global, mengingat adanya penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak melewati jalur itu.

Meski demikian, pihaknya terus melakukan langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan industri nasional. Salah satunya melalui penguatan struktur industri hulu, peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta diversifikasi pasar ekspor.

“Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik,” jelasnya.

Kemenperin juga mendorong peningkatan efisiensi energi di sektor industri, serta percepatan transformasi menuju industri hijau guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang harganya sangat dipengaruhi dinamika geopolitik.

Selain itu, Kemenperin terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, asosiasi, serta kementerian dan lembaga terkait, guna memastikan manufaktur tetap tumbuh di tengah dinamika ekonomi dunia.

Menperin juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah strategis lain untuk memitigasi dampak konflik melalui penguatan ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

CATEGORIES
TAGS
Share This