
Sempat Tertahan di Singapura Akibat Perang, 2 Kargo Minyak RI Akhirnya Diamankan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Di tengah memanasnya eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, pemerintah Indonesia berhasil melakukan langkah diplomasi cepat untuk menyelamatkan pasokan energi nasional. Dua kargo minyak yang sempat “tertahan” dan diminta kembali oleh pihak penjual di perairan Singapura, kini dipastikan telah diamankan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa gejolak pasar energi global saat ini sudah masuk dalam tahap “tidak normal”. Perang yang berlangsung sejak akhir Februari lalu membuat jalur perdagangan energi menjadi sangat ketat dan penuh ketidakpastian.
Kronologi Penahanan Kargo
Bahlil menceritakan bahwa kargo tersebut sebenarnya sudah dibeli melalui tender resmi oleh Pertamina lewat trader. Kapal sudah bergerak menuju wilayah Indonesia sebelum tiba-tiba diperintahkan untuk kembali oleh pihak penjual.
“Kita sudah beli, sudah berangkat, sudah masuk ke Laut Indonesia, kemudian suruh kembali lagi dua kargo. Jadi sekarang perekonomian untuk urusan minyak ini, hukum normalnya sudah tidak berlaku,” ujar Bahlil dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
Merespons hal tersebut, pemerintah bersama Pertamina segera melayangkan komplain keras. Hasilnya, kedua kargo tersebut dijadwalkan akan masuk kembali ke sistem distribusi nasional pada 18 Maret mendatang.
Stok BBM & LPG Tetap di Atas Batas Minimal
Meski ada gangguan di jalur logistik internasional, Bahlil memastikan masyarakat tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan BBM dan LPG menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H. Berikut adalah rincian ketahanan stok nasional terbaru:
- Pertalite (RON 90): 24,39 hari (Melampaui batas minimal).
- Pertamax (RON 92): 28 hari (Batas minimal 19 hari).
- Pertamax Turbo (RON 98): 31 hari.
- Solar Subsidi: 16,41 hari.
- LPG: 15,66 hari.
- Avtur: 38 hari.
Diversifikasi ke Australia
Selain mengamankan kargo di Singapura, Indonesia juga mulai mengalihkan ketergantungan pasokan dari Timur Tengah. Bahlil menyebutkan bahwa pada akhir pekan ini, dua kargo LPG tambahan dari Australia akan segera tiba.
“Kita pecah lagi kontrak jangka panjang kita. Untuk LPG, kita ambil dari Amerika dan beberapa negara lain termasuk Australia untuk mengantisipasi dinamika di Middle East,” pungkasnya.
Langkah taktis ini diambil agar ketersediaan energi di dalam negeri tidak terganggu oleh spekulasi pasar global maupun kendala fisik pengiriman akibat zona konflik. []

