
Negara Rugi Triliunan, Menteri UMKM Maman Abdurrahman Ungkap Ratusan Juta Dolar Impor Ilegal Tak Tercatat
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan adanya perbedaan signifikan antara data ekspor China ke Indonesia dan impor Indonesia dari China, khususnya pada komoditas tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki.
Menurut Maman, data impor yang tercatat di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan data ekspor China.
“Yang jadi masalah ini adalah barang-barang impor ilegal yang masuk, yang tidak terdata. Itu yang disebut Pak Presiden sebagai under invoicing. Data impor kita tercatat 100, tapi dari China ekspornya 900. Artinya ada 800 yang tidak tercatat, membanjiri produk domestik kita,” ujarnya dalam diskusi media yang diselenggarakan Forum Wartawan UMKM di Jakarta, Jumat.
Ia menegaskan praktik tersebut tidak hanya menggerus pendapatan negara, tetapi juga menimbulkan permasalahan sosial karena mengotori pasar domestik dan membuat UMKM sulit bersaing.
Berdasarkan data UNTrade 2025 yang diolah Kementerian UMKM, terdapat perbedaan signifikan antara catatan ekspor China ke Indonesia dan impor Indonesia dari China pada sejumlah komoditas tekstil, pakaian jadi, serta alas kaki.
Pada komoditas hijab (HS 6214), misalnya, sejak 2013–2024 nilai ekspor China selalu lebih tinggi dibanding impor Indonesia.
Pada 2024, ekspor hijab dan syal dari China tercatat sekitar 9 juta dolar AS, sementara impor Indonesia hanya 0,6 juta dolar AS.
Maman juga menyoroti data ekspor dan impor pakaian bayi (HS 6111). Pada 2024, ekspor China mencapai 4,2 juta dolar AS, sedangkan impor Indonesia hanya 2,7 juta dolar AS.
Kesenjangan serupa terlihat pada korset dan bra (HS 6212), dengan ekspor China sebesar 83,2 juta dolar AS dan impor Indonesia 28,8 juta dolar AS.
Untuk pakaian dalam wanita (HS 6108), ekspor China tercatat 48,5 juta dolar AS sementara impor oleh Indonesia hanya 13,9 juta dolar AS.
Celana dalam pria (HS 6107) juga menunjukkan gap, yakni ekspor 6,2 juta dolar AS dan impor 4,6 juta dolar AS.
Pada komoditas sepatu kain (HS 6404) pada 2024, ekspor China mencapai 157,2 juta dolar AS, sedangkan impor Indonesia hanya 112,4 juta dolar AS.
Kesenjangan juga terlihat pada kaus (HS 6109), dengan ekspor China 61,7 juta dolar AS dan impor Indonesia 20,4 juta dolar AS.
Celana dan jas pria (HS 6203) mencatat ekspor 30 juta dolar AS, sementara impor Indonesia hanya 8,2 juta dolar AS.
Untuk gamis dan rok wanita (HS 6204), ekspor China mencapai 74,2 juta dolar AS, sedangkan impor Indonesia 16,8 juta dolar AS.
Maman menyebut kondisi pasar domestik saat ini sebagai “kotor”, karena dipenuhi barang impor murah, termasuk yang masuk secara ilegal.
Menurutnya, maraknya impor ilegal membuat seluruh upaya peningkatan kapasitas UMKM yang telah dilakukan pemerintah tidak berjalan optimal.
Dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), program pelatihan, maupun fasilitasi produksi dinilainya menjadi kurang efektif karena produk UMKM kesulitan bersaing di pasar yang sudah dibanjiri barang impor.
“Seharusnya kalau produk sudah bisa kita produksi, ya dibatasi impor. Tapi kalau yang belum bisa, tidak masalah impor,” ujar Maman menegaskan. (sumber)

