
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Tegaskan Tak Ada Ekspor Bahan Mentah untuk Investor AS Termasuk Mineral Kritis
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah membuka ruang investasi bagi pelaku usaha Amerika Serikat (AS). Terutama, dalam pengembangan mineral kritis di Indonesia.
Menurut Bahlil, Indonesia menganut politik bebas aktif dalam diplomasi luar negeri serta menerapkan asas ekonomi bebas aktif dalam kerja sama investasi. Artinya, Indonesia memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh negara, untuk menanamkan modalnya di sektor strategis.
“Artinya kita memberikan ruang yang sama kepada semua negara termasuk Amerika dan beberapa negara lain yang akan melakukan investasi di Indonesia, khususnya di mineral kritis,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers secara virtual dikutip Selasa (24/2/2026).
Bahkan, praktik kerja sama investasi tersebut sejatinya sudah berjalan sebelum adanya perjanjian terbaru dengan AS. Misalnya saja dengan Freeport-McMoRan (FCX) melalui PT Freeport Indonesia, yang telah memperoleh konsesi sesuai aturan dan membangun fasilitas pengolahan (smelter) tembaga dengan nilai investasi hampir US$ 4 miliar.
Sementara itu, dalam konteks pengembangan mineral kritis seperti nikel, logam tanah jarang (LTJ), dan komoditas strategis lainnya, pemerintah telah bersepakat untuk memfasilitasi pengusaha-pengusaha asal AS yang ingin berinvestasi di Indonesia.
“Kami telah bersepakat untuk memfasilitasi bagi pengusaha-pengusaha yang ada dari Amerika Serikat untuk melakukan investasi dengan tetap menghargai aturan-aturan yang berlaku di dalam negara kita,” kata Bahlil.
Ia lantas menegaskan bahwa pemerintah akan memberikan prioritas dukungan dalam tahap eksekusi investasi, termasuk pembangunan fasilitas pemurnian (smelter). Namun, ia meluruskan bahwa kebijakan ini tidak berarti Indonesia akan membuka kembali ekspor bahan mentah.
“Jadi tidak jangan diartikan bahwa kita akan membuka ekspor barang mentah, enggak. Yang dimaksudkan di sini adalah mereka setelah melakukan pemurnian, kemudian hasilnya bisa diekspor. Biar clear nih biar tidak ada salah interpretasi,” katanya.
Di samping itu, pemerintah juga telah melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah pertambangan yang ada. Wilayah tersebut nantinya akan ditawarkan kepada investor yang berminat, dengan mekanisme dan regulasi yang berlaku.
“Dan saya sudah melakukan pemetaan-pemetaan terhadap lokasi-lokasi yang prospek karena kita juga harus membangun menjaga hubungan yang sudah sangat baik ini,” ujarnya. (sumber)

