Konflik Iran-Israel Memanas, Menperin Agus Gumiwang Waspadai Gangguan Logistik dan Rantai Pasok Global

Konflik Iran-Israel Memanas, Menperin Agus Gumiwang Waspadai Gangguan Logistik dan Rantai Pasok Global

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bergerak cepat mengantisipasi dampak eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik ini berpotensi mengganggu jalur logistik internasional dan rantai pasok bahan baku industri nasional.

Menperin menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah merupakan pusat energi dunia serta jalur perdagangan global yang sangat vital. Gangguan di kawasan tersebut, terutama blokade di Selat Hormuz, diprediksi akan memicu lonjakan harga minyak mentah internasional.

“Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik. Hal ini dapat memengaruhi efisiensi produksi manufaktur kita,” ujar Agus Gumiwang, Minggu (8/3/2026).

Sektor Petrokimia dan Logam Dasar Paling Rentan

Agus menggarisbawahi bahwa sektor petrokimia dan logam dasar merupakan bidang yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga energi dunia. Kenaikan biaya pengadaan bahan baku impor akibat ketidakpastian keamanan menjadi tantangan nyata bagi daya saing produk Indonesia di pasar global.

Untuk memitigasi risiko tersebut, Kemenperin fokus pada penguatan industri hulu nasional guna mengurangi ketergantungan pada pasokan global yang rentan gejolak.

“Strategi diversifikasi pasar ekspor terus dilakukan untuk memitigasi risiko volatilitas. Selain itu, penggunaan produk dalam negeri (P3DN) menjadi instrumen utama menjaga ketahanan struktur manufaktur kita,” tambahnya.

Selaras dengan Visi Presiden Prabowo

Langkah penguatan industri ini, menurut Agus, sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto terkait swasembada pangan dan ketahanan energi. Sektor manufaktur, khususnya industri pupuk serta alat mesin pertanian (alsintan), memegang peranan strategis dalam mewujudkan kemandirian ekonomi tersebut.

Transformasi menuju industri hijau juga menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil secara bertahap. Hal ini diharapkan dapat memberikan efisiensi jangka panjang bagi sektor manufaktur di tengah tantangan global.

See also  Beri Kepastian Hukum Usaha Kecil, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Terbitkan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) Baru

“Kami optimistis struktur industri manufaktur Indonesia memiliki daya tahan yang kuat. Sektor ini tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional meskipun menghadapi berbagai tantangan geopolitik global,” pungkas Menperin. []

CATEGORIES
TAGS
Share This