Ekspor Alas Kaki Tembus USD 7,28 Miliar, Menko Airlangga Hartarto Tegaskan Daya Saing Global

Ekspor Alas Kaki Tembus USD 7,28 Miliar, Menko Airlangga Hartarto Tegaskan Daya Saing Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, industri alas kaki nasional menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global.

“Pada tahun 2024, nilai ekspor industri alas kaki tumbuh signifikan sebesar 13,13 persen dan mencapai 7,28 miliar dolar AS. Capaian ini mencerminkan daya saing yang kuat dan tetap terjaga di pasar global,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang hadir secara virtual dalam acara Musyawarah Nasional ke-XI Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Jakarta, Rabu.

Menurutnya, industri alas kaki menjadi salah satu pilar utama sektor padat karya nasional berperan vital sebagai penyangga perekonomian dan penyerap tenaga kerja dalam skala besar.

Sektor ini berkontribusi sebesar 1,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan pada kuartal III 2025 dan menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja per Februari 2025.

Selain ekspor, kepercayaan investor terhadap industri alas kaki nasional juga terus meningkat. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada 2024 tercatat mencapai 859 juta dolar AS. Sementara, hingga semester I 2025 telah mencapai 803 juta. Realisasi penanaman modal ini naik hingga 93 persen hanya dalam 6 bulan.

Menko Airlangga, memandang tingginya minat investasi tersebut sejalan dengan tingkat utilisasi industri yang konsisten berada di atas 80 persen, mencerminkan kapasitas produksi yang optimal serta prospek usaha yang positif.

“Namun demikian, kita perlu tetap waspada terhadap berbagai tantangan termasuk diberlakukanya kebijakan tarif resiprokal sebesar 19 persen di pasar Amerika Serikat. Oleh karena itu, Indonesia berharap dengan implementasi IEU-CEPA, pasar ini bisa terus dibuka. Dan tentunya di tahun ini kita persiapkan agar implementasi IEU-CEPA bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” ujarnya.

See also  Menperin Agus Gumiwang Ungkap Strategi Realistis Indonesia Bangun Ekosistem Semikonduktor

Adapun untuk menjaga resiliensi industri alas kaki, pemerintah telah mengimplementasikan sejumlah instrumen kebijakan konkret.

Kebijakan tersebut antara lain penguatan pasar dalam negeri melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 23 Tahun 2025 terkait pengaturan impor barang konsumsi, pemberian stimulus fiskal bagi tenaga kerja melalui kebijakan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah berdasarkan PMK Nomor 10 Tahun 2025.

Selain itu, Pemerintah menyediakan Kredit Investasi Padat Karya melalui Permenko Nomor 4 Tahun 2025, serta fasilitasi ekspor melalui optimalisasi kawasan berikat dan penyederhanaan prosedur ekspor.

Pemerintah juga berkomitmen menciptakan ekosistem usaha yang kondusif melalui sinergi dengan APRISINDO, meliputi reformasi regulasi ketenagakerjaan dan penguatan kualitas sumber daya manusia industri, simplifikasi perizinan dan standarisasi biaya K3 berbasis risiko, optimalisasi logistik dan percepatan arus bahan baku, akselerasi penerapan ekonomi sirkular, serta penguatan diplomasi perdagangan.

Lebih lanjut, Airlangga menilai Munas XI APRISINDO menjadi momentum krusial untuk menetapkan arah kebijakan organisasi yang adaptif dan visioner dalam mengawal transformasi ekonomi serta penerapan standar keberlanjutan industri.

“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada APRISINDO atas dedikasi dan kontribusi selama 37 tahun sebagai mitra strategis Pemerintah dalam memajukan industri alas kaki Indonesia. Munas XI ini menjadi wadah penting untuk mengkonsolidasikan pandangan, merumuskan rekomendasi strategis, serta menyepakati langkah-langkah nyata dunia usaha dalam mendukung agenda pembangunan nasional, khususnya di sektor industri padat karya,” tambah dia.

CATEGORIES
TAGS
Share This