
Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes, Menkomdigi Meutya Hafid Tekankan Pentingnya Etika Jurnalistik di Era Digital
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan agar para wartawan atau jurnalis menghadirkan karya jurnalistik dengan data dan rasa.
“Mari kita kembalikan karya-karya dengan karya-karya yang penuh rasa, penuh data, daripada emosi semata,” katanya dalam acara diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes” yang digelar di Jakarta pada Jumat, 7 Februari 2026.
Digitalisasi, kata dia, memudahkan jurnalis untuk menghasilkan karya jurnalistik yang menghadirkan empati dengan dukungan data.
Menteri Meutya Hafid juga mengingatkan para jurnalis untuk mengedepankan etika jurnalistik dalam berkarya. Ia berharap sosok pahlawan nasional Roehana Koeddoes, wartawan perempuan pertama di Indonesia, bisa menjadi inspirasi bagi para jurnalis untuk menghadirkan karya-karya jurnalistik berkualitas.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar juga menyampaikan pentingnya penerapan etika jurnalistik dalam menyajikan informasi kepada publik.
“Informasi apapun juga yang dilempar keluar, itu menjadi informasi publik.
Namun itu tergantung dari kita untuk memastikan apa yang keluar dari sana tepat, akurat. Dan yang paling penting adalah integritas dijaga, kebenaran,” katanya.
Ia berharap insan pers Indonesia menghadirkan karya-karya jurnalistik dengan hati seperti Roehana Koeddoes.
“Yang penting adalah tongkat kebenaran itu selalu ada dan berbasiskan hati dengan niat yang baik,” katanya.
Roehana Koeddoes lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 20 Desember 1884. I meninggal dunia pada usia 87 tahun di Jakarta pada 17 Agustus 1972. Roehana Koeddoes memulai kiprah jurnalistik di surat kabar Poetri Hindia pada 1908 dan kemudian menerbitkan surat kabar Sunting Melayu Pemerintah menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada tahun 2019.
