Minyak Rusia Masuk RI! Bahlil Lahadalia: Selama Sesuai Aturan dan Menguntungkan, Kenapa Tidak?

Minyak Rusia Masuk RI! Bahlil Lahadalia: Selama Sesuai Aturan dan Menguntungkan, Kenapa Tidak?

Kabar masuknya minyak asal Rusia ke Indonesia pada akhir 2025 hingga awal 2026 kembali mencuat, menyoroti dinamika pasokan energi nasional dan posisi geopolitik Indonesia di tengah ketegangan global.

Sejak resmi menjadi anggota forum ekonomi BRICS alias Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) pada Oktober 2024, Indonesia membuka peluang untuk mengimpor minyak dari Rusia.

Pada waktu itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, kebijakan energi Indonesia tetap berlandaskan prinsip politik luar negeri bebas aktif.

“Ketika kita bergabung dengan BRICS dan ada peluang untuk mendapatkan minyak dari Rusia, selama itu sesuai aturan dan tidak ada persoalan, kenapa tidak?” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Januari 2025.

Sementara itu, anak usaha PT Pertamina, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), membuka peluang impor minyak mentah Rusia sejak Mei 2024 melalui tender terbuka.

Direktur Utama KPI Taufik Adityawarman menekankan, impor dilakukan langsung ke kilang dan sesuai spesifikasi teknis, serta mematuhi ketentuan Office of Foreign Assets Control (OFAC) Amerika Serikat.

“Kalau crude Rusia, ada beberapa yang masuk. Kita juga akan ada sesuai dengan peraturan OFAC-nya, tetap harus mengikuti itu,” jelas Taufik di sela IPA Convex 2025, Mei 2025.

Berdasarkan data pelacakan kapal dari Kpler dan Vortexa, seperti dikutip Reuters, Indonesia menerima dua kargo minyak Rusia jenis Sakhalin Blend pada Desember 2025 dan Januari 2026. Masing-masing sekitar 700.000 barel, dibongkar di Pelabuhan Balikpapan dan Cilacap.

Kapal GT Honor membongkar sekitar 700.000 barel di Balikpapan pada 25 Desember 2025 setelah melakukan ship-to-ship (STS) dengan kapal Galaxy di perairan dekat Hong Kong.

Sementara kapal Integrity Racer membongkar kargo serupa di Cilacap pada Januari 2026 usai STS dengan kapal Voyager, juga di perairan Hong Kong. Kedua kapal STS tersebut masuk daftar sanksi AS dan Uni Eropa serta kerap mengangkut minyak dari proyek Sakhalin-2 Rusia.

See also  Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Sebut Tekstil hingga Elektronik Paling Rentan Tarif AS

Analis Vortexa Emma Li menilai volume ini tergolong tidak lazim, mengingat Indonesia selama ini lebih banyak mengandalkan pasokan dari Timur Tengah dan Afrika. Masuknya kargo Rusia terjadi di tengah tekanan harga minyak Rusia akibat potensi penurunan permintaan dari India, salah satu pembeli utama.

Menanggapi isu ini, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menegaskan, seluruh impor minyak dilakukan sesuai peraturan untuk menjaga pasokan energi nasional.

“Sebagai penjelasan awal, Pertamina selalu mengikuti peraturan dan ketentuan yang ada dalam melaksanakan operasi nya termasuk dalam mekanisme impor minyak dalam memenuhi kebutuhan energi nasional,” ujar Baron, Rabu (4/2/2026).

CATEGORIES
TAGS
Share This