Antisipasi Krisis Selat Hormuz, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Dorong Percepatan B50 dan PLTS 800 GW

Antisipasi Krisis Selat Hormuz, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Dorong Percepatan B50 dan PLTS 800 GW

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya penguatan kerja sama regional Asia sebagai benteng menghadapi dinamika ekonomi global yang kian tidak menentu. Hal ini disampaikan Airlangga dalam sesi Asian Leaders Roundtable pada rangkaian Tokyo Conference 2026 di Jepang, Kamis (12/3).

Acara bergengsi tersebut dipimpin langsung oleh Mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Co-Chair, serta dihadiri tokoh ekonomi dunia seperti Sri Mulyani Indrawati.

Tantangan Geopolitik dan Jalur Energi

Airlangga menyoroti pergeseran tatanan global yang kini diwarnai proteksionisme dan meningkatnya tensi geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan AS-Israel. Ketegangan ini memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas USD 100 per barel dan mengancam jalur vital Selat Hormuz.

“Dalam kondisi geopolitik yang memanas, stabilitas ekonomi dunia sangat dipengaruhi oleh dinamika keamanan energi. Asia harus memiliki peran sebagai kekuatan penyeimbang,” ujar Airlangga.

Kemandirian Energi: Dari B50 hingga PLTS 800 GW

Merespons ancaman krisis energi global, Airlangga memaparkan langkah agresif Indonesia di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto. Indonesia berkomitmen meningkatkan kemandirian energi melalui sumber daya domestik.

Saat ini, Indonesia telah menjalankan program Biodiesel B40 dan tengah bersiap menuju B50, serta pengembangan Bioetanol E20. Di sektor energi terbarukan, pemerintah menyiapkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 800 Gigawatt sebagai strategi jangka panjang.

Asia: Kekuatan 52% PDB Global 2050

Dengan proyeksi kontribusi Asia mencapai 52% terhadap PDB global pada tahun 2050, Airlangga menekankan pentingnya integrasi ekonomi melalui ASEAN dan G20. Indonesia sendiri diproyeksikan tumbuh solid sebesar 5,4% pada tahun 2026 dengan surplus neraca perdagangan yang terjaga selama 69 bulan berturut-turut.

See also  Menteri ATR Nusron Wahid Ungkap Sertifikasi Tanah Wakaf Baru Capai 42 Persen

“Jika Asia tetap berpegang pada semangat keterbukaan regional dan menolak pendekatan zero-sum, maka abad ke-21 dapat benar-benar menjadi abad Asia,” pungkas Menko Airlangga. []

CATEGORIES
TAGS
Share This