Airlangga Hartarto: Ekonomi Indonesia Siap ‘Take Off’, Target Pertumbuhan 8 Persen di 2029

Airlangga Hartarto: Ekonomi Indonesia Siap ‘Take Off’, Target Pertumbuhan 8 Persen di 2029

Ekonomi Indonesia diproyeksikan akan take off dalam dua tahun ke depan, asalkan seluruh mesin ekonomi —fiskal, moneter, dan investasi, baik melalui Danantara maupun sektor swasta— bergerak secara harmonis. Dengan kebijakan yang kredibel, terprediksi, dan konsisten mendukung pertumbuhan, laju pertumbuhan ekonomi nasional diyakini dapat meningkat secara bertahap menuju 8% pada 2029.

“Untuk mencapai target pertumbuhan yang diharapkan oleh Bapak Presiden, yaitu 8% pertumbuhan, kita perlu melakukan reformasi struktural secara terus-menerus,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam acara Indonesia Economic Outlook (IEO) di Auditorium Wisma Danantara, Jumat (13/02/2026).

Acara yang diinisiasi Kementerian Koordinator Perekonomian tersebut dihadiri Presiden Prabowo Subianto serta enam panelis utama, yakni Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, CEO Danantara/Menteri Investasi Rosan Roeslani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana.

Airlangga mengibaratkan ekonomi Indonesia seperti pesawat yang hampir lepas landas pada 1998, namun terganggu oleh krisis internasional. Kini, menurutnya, Indonesia kembali memiliki momentum untuk benar-benar lepas landas dalam dua tahun ke depan.

“Mesin produksi —baik belanja pemerintah, moneter, sistem keuangan, maupun investasi— harus bergerak secara harmonis. Danantara dan pelaku usaha swasta diharapkan menjadi engine investasi dan mesin pertumbuhan yang memberikan kontribusi besar terhadap PDB,” ujarnya.

Selain itu, kualitas kebijakan menjadi faktor penentu. Kebijakan harus kredibel, dapat diprediksi, dan konsisten. Sistem keuangan, baik perbankan maupun pasar finansial, harus semakin dalam dan mendukung pembiayaan pertumbuhan. Dari sisi permintaan, konsumsi masyarakat perlu ditingkatkan, sementara ekspor harus terus dipacu.

Peluang ekspor, kata Airlangga, terbuka lebar. Di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), dalam 10 tahun ke depan ekspor berpotensi meningkat hingga 10 kali lipat.

See also  Daftar Lengkap Menteri & Pejabat Strategis Partai Golkar di Kabinet Merah Putih (Update Terbaru)

Airlangga menekankan bahwa tahun 2026 menjadi krusial, terutama terkait pertimbangan kebijakan, pengendalian risiko makro, serta penguatan instrumen fiskal yang perlu disampaikan secara jelas kepada para pemangku kepentingan.

Landasan yang kuat dibangun melalui penyederhanaan birokrasi, kepastian investasi, serta penegakan hukum yang konsisten sebagaimana dicanangkan Presiden Prabowo. “Dengan fondasi itu, insyaallah negara besar ini akan benar-benar lepas landas,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, enam panelis membahas peta jalan pertumbuhan secara komprehensif. Menteri Keuangan memaparkan arah kebijakan fiskal; CEO Danantara menjelaskan tata kelola dan strategi investasi sovereign fund tersebut; Menko Pangan menguraikan program Koperasi Desa Merah Putih; Kepala BGN menjelaskan implementasi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari sisi supply chain pertanian hingga distribusi; Menteri Pertanian menyampaikan capaian swasembada pangan dan reformasi struktural sektor pangan; sementara Menteri ESDM memaparkan strategi transisi energi, hilirisasi mineral, dan keberlanjutan.

Tantangan Global

Di tengah pertumbuhan ekonomi global yang stagnan di kisaran 3%—bahkan diproyeksikan IMF dan OECD turun menjadi 2,9–3% pada 2026—, Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat. Perdagangan global pun diperkirakan melambat hingga sekitar 2,4%.

Namun Indonesia mencatatkan kinerja impresif. Di antara negara G20, pada kuartal keempat 2025 Indonesia berada di posisi kedua setelah India yang tumbuh 7,4%. Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11%.

Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga sebesar 4,98%, mencerminkan stimulus yang tepat sasaran, stabilitas harga, serta meningkatnya mobilitas masyarakat saat periode Natal dan Tahun Baru. Untuk pertama kalinya, kuartal keempat dan kuartal pertama sama-sama didukung momentum hari besar keagamaan, dengan Idulfitri jatuh di kuartal pertama yang secara historis mendorong lonjakan pertumbuhan.

Konsumsi lembaga nonprofit tumbuh 5,13%, mencerminkan peningkatan aktivitas sosial dan respons kebencanaan. Investasi meningkat 5,09%, sementara belanja modal pemerintah melonjak 44,2%. Belanja pemerintah pada program prioritas berfungsi sebagai shock absorber terhadap perlambatan global, tumbuh 4,52% pada kuartal keempat.

See also  Rapat dengan DPR, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Ungkap Capaian Ketahanan Energi Nasional 2025

Ekspor tumbuh 7,03% didukung peningkatan volume dan nilai ekspor, serta kenaikan kunjungan wisatawan sebesar 10% sepanjang 2025. Wisatawan Nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan, naik 17,55% dibanding 2024. Sektor transportasi, perdagangan, akomodasi, dan makanan-minuman tumbuh di atas 7%.

Pertumbuhan ekonomi juga berdampak pada indikator sosial. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25%, rasio gini membaik ke 0,36, menunjukkan pemerataan kesejahteraan yang meningkat. Tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,74%, dengan tambahan 2,71 juta tenaga kerja terserap berkat realisasi investasi.

Momentum ini selaras dengan agenda pemerintah: kedaulatan pangan, energi, dan transformasi ekonomi menuju Indonesia maju.

Target 2026 dan Reformasi Pasar Modal

Pertumbuhan ekonomi 2026 ditargetkan 5,4%, dengan potensi hingga 5,6%. Sektor prioritas meliputi pertanian, manufaktur, digital, dan energi. Program unggulan Presiden—Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan program 3 juta rumah—diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru yang menyerap tenaga kerja luas, dengan dukungan pembiayaan non-APBN melalui Danantara.

Sektor keuangan diposisikan sebagai enabler. Pasar modal kembali stabil dan positif. Reformasi dilakukan melalui peningkatan free float saham dari 7,5% menjadi 15% agar likuiditas meningkat, serta transparansi kepemilikan saham di bawah 5%. Batas investasi dana pensiun dan asuransi di saham dinaikkan dari 10% menjadi 20% untuk memperdalam pasar.

Diplomasi Ekonomi dan Akses Pasar Global

Dari sisi diplomasi, kepemimpinan Presiden Prabowo membuka akses pasar global secara luas. Perjanjian EU-CEPA akan membuat tarif produk Indonesia menjadi 0% pada 2027, membuka akses terhadap 14,7% PDB global. Perjanjian dengan Kanada, kawasan Eurasia, Inggris melalui Economic Growth Partnership, serta rencana kesepakatan dengan Amerika Serikat semakin memperluas pasar ekspor.

Dengan kombinasi reformasi struktural, mesin investasi yang bergerak harmonis, sistem keuangan yang lebih dalam, serta perluasan pasar ekspor, Airlangga optimistis Indonesia berada di jalur yang tepat.

See also  Menperin Agus Gumiwang Ungkap Strategi Realistis Indonesia Bangun Ekosistem Semikonduktor

“Demikian laporan saya, Bapak Presiden,” tutup Airlangga, seraya menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk benar-benar take off dan menapaki jalur pertumbuhan tinggi menuju 8% dalam beberapa tahun mendatang.

CATEGORIES
TAGS
Share This