Pasien BPJS Dihina Nakes hingga Meninggal, Maharani Desak Evaluasi Total Rumah Sakit

Pasien BPJS Dihina Nakes hingga Meninggal, Maharani Desak Evaluasi Total Rumah Sakit

ANGGOTA Komisi IX DPR yang juga berprofesi dokter, Maharani, menyoroti sejumlah tenaga kesehatan (nakes) yang menghina pasien BPJS karena tidak mendapat ruang rawat inap setelah menunggu delapan jam. Maharani mengusulkan harus ada evaluasi di beberapa sisi.

Maharani awalnya menyampaikan duka cita karena pasien BPJS yang dihina nakes kini sudah meninggal dunia. Ia memandang kasus ini secara sangat serius.

“Sebagai anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan, saya menyatakan ikut berduka cita yang mendalam atas meninggalnya pasien tersebut dan saya memandang kasus ini secara sangat serius,” kata Maharani saat dihubungi, Jumat (7/8/2026).

Maharani meminta agar semua stakeholder berfokus pada solusi dan evaluasi. Dia memandang harus ada perbaikan sistemik. Salah satu yang ia soroti yakni manajemen rumah sakit. Ia memandang harus ada evaluasi total terkait durasi masa tunggu bagi pasien rawat inap untuk mendapatkan perawatan.

“Peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi total manajemen rumah sakit-khususnya pada alur triage dan masa tunggu rawat inap (waiting time),” ucap dia, dikutip dari Detik.

“Waktu tunggu hingga 8 jam bagi pasien berisiko tinggi adalah celah krusial yang tidak boleh terulang. Kita perlu memastikan sistem kontrol patient safety di setiap rumah sakit berjalan responsif 24/7 tanpa kompromi,” lanjutnya.

Dia juga mendesak hentikan stigmatisasi pasien BPJS. Dia meminta tak boleh lagi ada perlakuan berbeda kepada pasien BPJS.

“Tidak boleh ada narasi atau pembedaan perlakuan antara pasien BPJS Kesehatan dan non-BPJS. JKN adalah program strategis negara untuk melindungi rakyat, dibiayai dari iuran warga dan APBN. Seluruh tenaga medis wajib menjunjung tinggi asas kesetaraan (equity) dan keadilan dalam pelayanan kesehatan,” ujar dia.

READ  Maruli Siahaan Soroti Ancaman AI dan Deepfake terhadap Hak Asasi Manusia

Selain itu, Maharani mendorong adanya penguatan etika profesi nakes hingga pelindungan terhadap nakes.

“Kami di Komisi IX sangat mengapresiasi dedikasi mayoritas nakes kita yang bekerja keras di garda terdepan. Namun, integritas dan empati adalah roh dari pelayanan medis. Kami mendorong organisasi profesi (seperti IDI dan PPNI) serta Kementerian Kesehatan untuk terus memperkuat pembinaan etika, literasi digital, sekaligus memperhatikan kesejahteraan dan mental health para nakes agar terhindar dari burnout yang berdampak pada kualitas layanan,” jelas dia.

Lebih lanjut, ia juga meminta agar kritik publik di media sosial dijadikan hal positif untuk berbenah.

“Kritik dan dinamika di media sosial harus kita jadikan cambuk positif untuk pembenahan sistemik. Komisi IX DPR RI berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan, anggaran, serta pengawasan agar transformasi pelayanan kesehatan nasional benar-benar menghadirkan layanan yang cepat, tepat, dan humanis bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutur dia.

Maharani juga berharap dan mendesak Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan setempat untuk turun tangan membenahi manajemen faskes terkait, sekaligus memastikan proses klarifikasi dan pembinaan etika berjalan secara adil, transparan, dan konstruktif demi kemajuan dunia kesehatan.

Adapun kasus ini mencuat setelah curhatan Yurizal Tri Chaerawan viral di media sosial. Pada 22 Juli 2026, melalui akun medsos, ia mengaku telah menunggu kamar rawat inap selama delapan jam. Dalam unggahannya, ia tidak menyebutkan nama rumah sakit tempat dirinya dirawat.

Alih-alih mendapat simpati, unggahan tersebut justru dibanjiri komentar bernada menghina. Sebagian akun bahkan menyarankan Yurizal pindah ke ruang jenazah agar lebih cepat mendapat kamar. Ada pula komentar yang menyinggung penyakit serius dan menyakiti diri dengan nada bercanda.

Sejumlah akun yang menuliskan komentar tersebut diduga berprofesi sebagai dokter, perawat, maupun nakes lain berdasarkan informasi yang tercantum di profil media sosial mereka. Namun, hingga kini identitas maupun profesi para pemilik akun tersebut belum seluruhnya terverifikasi.

READ  Garda Terdepan Pendidikan Agama, Ranny Fahd Arafiq Minta Guru Ngaji Dilindungi Jaminan Kematian dan Kecelakaan Kerja

Perbincangan makin meluas setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Kabar duka itu disampaikan oleh sepupunya melalui media sosial dan membuat unggahan lama Yurizal kembali viral. []

CATEGORIES
TAGS
Share This