
Menperin Agus Gumiwang: Industri Halal Adalah Peluang Ekonomi Raksasa, Bukan Sekadar Religi
Peningkatan konsumsi masyarakat selama bulan suci Ramadan 2026 dipandang sebagai peluang emas untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok halal global. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa sektor industri halal memiliki kontribusi vital terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Agus menilai, status Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia merupakan modal utama untuk bertransformasi menjadi pusat industri halal dunia.
Lebih dari Sekadar Kebutuhan Agama
Menurut Menperin, industri halal kini telah berevolusi menjadi bagian dari gaya hidup modern yang menekankan pada kesehatan, keamanan, dan transparansi proses produksi.
“Industri halal bukan sekadar memenuhi kebutuhan keagamaan masyarakat, tetapi juga merupakan peluang ekonomi yang sangat besar. Dengan meningkatnya kesadaran konsumen, Indonesia memiliki potensi kuat untuk menjadi pemimpin pasar,” ujar Agus Gumiwang di Jakarta (11/3/2026).
Target Ekspor Fantastis: USD50 Miliar
Pemerintah memproyeksikan nilai ekspor produk halal Indonesia mampu menembus angka USD50 miliar. Angka ini mencakup berbagai sektor strategis, di antaranya:
- Makanan dan Minuman
- Fesyen Muslim
- Kosmetik
- Produk Farmasi
Agus menambahkan bahwa potensi pasar halal global saat ini sangat menggiurkan, yakni mencapai lebih dari USD3 triliun per tahun. Indonesia terus berupaya mengisi kesenjangan kebutuhan impor dunia dengan produk-produk berkualitas tinggi.
Penguatan IKM dan Sertifikasi Halal
Untuk mendukung visi tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menggencarkan fasilitasi sertifikasi halal bagi ribuan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM). Sertifikasi ini dianggap penting bukan hanya untuk kepastian hukum, tapi juga sebagai penjamin kualitas bahan baku dan higienitas produk.
“Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ekosistem industri halal nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk dalam negeri di kancah internasional,” tambah Agus.
Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, lembaga sertifikasi, dan pelaku industri, Indonesia optimistis dapat menjadi pemain global yang diperhitungkan, memanfaatkan momentum Ramadan sebagai batu loncatan menuju kemandirian ekonomi syariah. []

