
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pastikan Ekosistem Baterai EV CATL Siap Produksi 2026
Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Bahlil Lahadalia bocorkan jadwal produksi baterai kendaraan listrik di pabrik CATL (Contemporary Amperex Technology Co., Limited) Karawang, Jawa Barat.
“Khusus untuk hilirisasi nikel, ekosistem baterai mobil yang tahun kemarin di-groundbreaking oleh bapak Presiden Prabowo di Karawang yang punya CATL direncanakan pada semester I-2026 itu sudah kita resmikan,” ujar Bahlil, dilansir Bloomberg, Sabtu 10 Januari 2026.
Pabrik baterai CTAL di Kawasan Artha Industrial Hills tersebut mulai dibangun sejak Presiden Prabowo Subianto meletakan baru pertama, atau ground breaking di Juni 2025. Raksasa baterai asal Tiongkok itu seakan-akan menjadi niscaya setelah LG Energy Solution batal berinvestasi di Tanah Air.
Pembuatan baterai CATL di dalam negeri itu tidak berjalan sendiri, namun melibatkan beberapa BUMN (Badan Usaha Milik Negara) seperti PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL).
Produsen baterai asal China, CATL. (Carnewschina)Produsen baterai asal China, CATL. (Carnewschina) Berdasarkan informasi sebelumnya, proyek pembuatan baterai kendaraan listrik tersebut menelan investasi sebesar 5,9 miliar dollar Amerika atau setara Rp95 triliunan.
Prosesnya akan dimulai dari hulu ke hilir dengan total enam subproyek. Salah satu dari proyek tersebut melibatkan Halmahera Timur, yang di mana saat ini lokasi tersebut menjadi tambang nikel.
Sehingga tidak menutup kemungkinan CATL akan mengembangkan baterai dengan bahan baku nikel atau disebut NMC (nikel, mangan, kobalt) karena Indonesia memiliki cadangan terbanyak. PT Antam, dan Hong Kong CBL Limited di Halmahera, telah membentuk PT Feni Haltim untuk mengembangkan kawasan industri energi baru yang terdiri atas proyek pertambangan nikel, smelter, priometalurgi dengan kapasitas 88 ribu toan refined ickel alloy per tahun 2027.
Pabrik baterai CATL di Karawang, Jawa Barat itu memiliki kapasitas awal 6,9 GWh untuk produksi komponen penyimpan daya listrik, dan nantinya akan meningkat 15 GWh ditahap kedua. Rencana sebelumnya pabrik itu mulai beroperasi secara komersial, pada akhir 2026.
Seperti diketahui, CATL selama ini jenama asal China itu lebih konsen dengan baterai lithium iron phosphate (LiFePO) atau lithium ferro phosphate (LFP) yang digunakan oleh sejumlah brand global untuk mobil listrik dan hybrid dengan kapasitas berbeda-beda. Baru-baru ini mereka juga tengah mengembangkan baterai dengan bahan dasar garam alias sodium.

